Masyarakat Sulteng diimbau antisipasi dampak kekeringan

id Hujan,Kemarau,Panas,Kekeringan,Stasiun Meteorologi Kelas II,Masyarakat Sulteng diimbau antisipasi dampak kekeringan,antisipasi dampak kekeringan

Masyarakat Sulteng diimbau antisipasi dampak kekeringan

Koordinator Analisa dan Pengolahan Data Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Aljufri, Affan Nugraha Diharsya, S.SI (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Palu (ANTARA) - Masyarakat Sulawesi Tengah utamanya di empat daerah meliputi Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong (Padagimo) diimbau untuk mengantisipasi dampak dari kekeringan.

Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Aljufri Kota Palu, melaporkan bahwa empat daerah tersebut masuk dalam wilayah tergolong peralihan musim, dari musim kemarau ke hujan atau sebaliknya dari hujan ke kemarau pada Agustus-Oktober 2019.

Peralihan musim itu, merupakan bagian dari durasi musim kemarau yang terhitung Mei - Oktober. Stasiun Meteorologi menyebut, kemarau yang terjadi masih dalam kategori normal.

Walaupun masih kategori normal, namun terasa lebih terik untuk wilayah Palu dan sekitarnya. Hal itu dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya yaitu panas yang terpusat di Kota Palu dan sekitarnya, berdampak pada rendahnya kelembapan.

Sehingga kondisi panas terasa lebih terik. Kelembapan Kota Palu berkisar 30 - 40 persen pada siang hari. Di daerah lain 40 - 50 persen. Karena itu, suhu yang terpantau 33 - 37 derajat celcius, di siang hari.

"Panas dan tingkat kelembapan yang rendah, itu yang menyebabkan terjadinya kekeringan di beberapa wilayah," sebut Koordinator Analisa dan Pengolahan Data Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Aljufri, Affan Nugraha Diharsya, di Palu, Senin.

Atas hal itu, Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Aljufri menyampaikan imbauan mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan dan hutan.

Hal itu seiring kecenderungan masyarakat atau kebiasaan masyarakat di Sulteng membuka lahan dengan cara membakar hutan. "Perlu diwaspadai meluasnya kebakaran lahan," kata Affan.

Selanjutnya, perlu diantisipasi terjadinya dehidrasi, karena oanas yang dirasakan jauh lebih terik, dapat meningkatkan dehidrasi yang sangat tinggi, pada masyarakat, balita dan anak-anak.

Perlu juga diantisipasi wabah penyakit tenggerokan dan infeksi salurapan pernapasan seiring tingkat debu yang terbawa oleh angin meningkat, akibat dari kekeringan.

"Wabah inflensnya juga bisa berpotensi. Olehnya, masyarakat waspada terhadap potensi-potensi tersebut," ujar dia.

Affan menyebut bahwa Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Aljufri Palu, memantau adanya beberapa daerah di Sulteng yang sebelumnya berpotensi dilanda kekeringan yaitu Kabupaten Tojo Una-una, Poso dan Buol.

"Update tanggal 18 Agustus, kekerigan sudah menghilang. Hot spot untuk wilayah Sulteng terpantau suda mulai menghilang, dari sebelumnya terpantau tiga titik hot spot," sebut Affan.

Ia menambahkan, setelah tiga itu, terpantau tiga titik berikutnya yakni Donggala, Palu dan Sigi. Untuk Donggala, berada di wilayah Pantai Barat, Sigi di bagian Pipi Koro, dan Palu di Kota Palu.
Baca juga: BMKG imbau warga NTB waspadai dampak puncak kemarau
Baca juga: 18 desa di Banjarnegara hadapi kekeringan dan kekurangan air
Baca juga: ACT Sumsel target salurkan 100.000 liter air bersih

Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar