Seorang penambang di lereng Merapi tewas tertimpa longsoran batu

id Penambang,Penambang pasir,Lereng gunung Merapi,Penambang tewas

Seorang penambang di lereng Merapi tewas tertimpa longsoran batu

Petugas memasang Garis Polisi di lokasi batu longsor di aliran Sungai Boyong, Candibinangun, Pakem, Sleman yang mengakibatkan seorang penambang tewas tertimpa batu besar. (Foto Antara/ Victorianus Sat Pranyoto)

Sleman (ANTARA) - Seorang penambang manual di aliran Sungai Boyong, lereng Gunung Merapi, Dusun Kalireso, Desa Candibinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tewas akibat tertimpa longsoran batu besar, Minggu.

Korban bernama Jumarno, (60) warga asli Temanggung, yang sudah lama menetap di Kalireso, Candibinangun.

"Korban pertama kali, ditemukan Samidi sekitar pukul 10.00 WIB," kata Kapolsek Pakem Kompol Haryanta.

Menurut dia, dari keterangan saksi, saat itu saksi hendak mencari pasir di lokasi kecelakaan. Namun saat di lokasi, saksi melihat ada longsoran tebing baru.

"Saat itu suasana lokasi tambang juga sepi. Saksi kemudian mencari rekannya yang biasa menambang di sana," ungkapnya.

Tidak berselang lama, saksi melihat rekannya sudah berada di bawah batu besar yang diperkirakan berasal dari longsoran tebing setinggi empat meter.

"Saat ditemukan, korban dalam kondisi tertimpa batu besar dan hanya terlihat sedikit saja," ucapnya.

Ia mengatakan, proses evakuasi memakan waktu cukup lama. Hampir dua jam untuk bisa mengeluarkan korban. Karena batu yang menimpa korban berukuran besar dan harus dipecah agar korban bisa dikeluarkan.

"Selama dua jam kami melakukan evakuasi dengan memecah batu dibantu BPBD, Basarnas, TNI, SAR Linmas. Korban yang sudah meninggal dunia kemudian kami bawa ke RS Bhayangkara," tuturnya.

Haryanta menduga kejadian ini terjadi sebelum pukul 10.00 WIB, karena biasanya para penambang pasir manual ini berangkat menambang dari pukul 06.00 WIB hingga tengah hari.

"Hanya saja, saat itu korban saat menambang seorang diri. Padahal biasanya ada beberapa penambang yang ikut," ujarnya.

Ia mengatakan, cara menambang manual yang dilakukan juga sangat berbahaya. Para penambang manual menambang di pinggiran tebing sehingga risiko longsor menjadi sangat tinggi.

"Di sepanjang aliran Sungai Boyong ini selain di lokasi laka, juga ada penambang pasir dan batu di sisi selatan," katanya.

Haryanta mengimbau kepada masyarakat agar tidak menambang pasir secara serampangan. Sebab, pada beberapa sisi tebing ada bekas longsoran.

"Bekas itu masih nampak pada tebing sisi timur. Pada tebing tersebut kontur tanah didominasi oleh tanah yang labil. Tanahnya sudah gembur. Tebing itu sudah bahaya," jelasnya.

Ke depan Polsek Pakem akan mengintensifkan patroli di tambang. Selain itu, juga akan ada melarang penambang di daerah tersebut.

"Ini berbahaya, jadi nanti penambangan akan kami larang," katanya.

Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar