Kemendikbud terima sertifikat warisan dunia pertambangan Ombilin

id Pertambangan Ombilin di Sawahlunto, sumatera barat, warisan dunia, penetapan pertambangan Ombilin, sertifikat,Hilmar Farid, pertambangan era kolonial

Kemendikbud terima sertifikat warisan dunia pertambangan Ombilin

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid. ANTARA/Indriani

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerima sertifikat asli penetapan warisan dunia pertambangan batubara zaman kolonial Ombilin di Sawahlunto dari UNESCO di Jakarta, Senin.

Penetapan tersebut diserahkan Kementerian Luar Negeri kepada Kemendikbud dan disaksikan perwakilan UNESCO Indonesia.

"Ini merupakan kerja keras banyak pihak, karena sejak 2015 didaftarkan dan melalui beberapa tahap mulai dari pendaftaran, pengkajian dari para ahli, dan sebagainya," ujar Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dalam acara taklimat media.

Hilmar melanjutkan ujung tombak dari pengajuan pertambangan kolonial tersebut, yakni Kementerian Luar Negeri, ditambah komitmen yang kuat dari pemerintah daerah.

"Alhamdulillah kerja keras kita semua membutuhkan hasil," ujar dia.

Kawasan pertambangan batubara Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dalam sesi Sidang Ke-43 Komite Warisan Dunia UNESCO PBB di Gedung Pusat Kongres Baku di Baku, Azerbaijan, 6 Juli 2019.

Tahapan selanjutnya, kata Hilmar, perlindungan yang mana pihaknya akan membentuk badan pengelola dan menggandeng lima kabupaten/kota di Sumatera Barat serta PT Bukit Asam.

"Kami juga akan melakukan berbagai upaya mempromosikan pertambangan itu. Bocorannya melalui media film," katanya.

Baca juga: Pulau Penyengat akan diusulkan sebagai warisan dunia

Warisan tambang batubara Ombilin di Sawahlunto dinilai pantas ditetapkan sebagai warisan dunia karena konsep tiga serangkai yang dicetuskan Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu. Tiga serangkai meliputi industri pertambangan batubara Ombilin di Sawahlunto, sistem transportasi kereta api melalui wilayah Sumatera Barat, dan sistem penyimpanan di Silo Gunung di Pelabuhan Emmahaven, atau Teluk Bayur sekarang.

Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto memenuhi kriteria (ii) mengenai komunikasi antarbudaya dan Kriteria (iv) mengenai perkembangan dari Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value) sebagai warisan penambangan, pengangkutan, dan penyimpanan batubara di Sumatera Barat.

Kriteria (ii) mewakili nilai pertukaran penting dalam nilai-nilai kemanusiaan sepanjang masa atau dalam lingkup kawasan budaya, dalam perkembangan arsitektur dan teknologi, seni monumental, perencanaan kota dan desain lanskap.

Keunikan warisan tambang batubara Ombilin Sawahlunto menunjukkan adanya pertukaran pengetahuan dan teknologi Minangkabau/Sumatera Barat dengan teknologi Eropa terkait dengan eksploitasi batubara pada masa akhir abad ke-19 sampai dengan masa awal abad ke-20 di dunia, khususnya di Asia Tenggara.

Kriteria (iv) tentang contoh luar biasa dari tipe bangunan, karya arsitektur dan kombinasi teknologi atau lanskap yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia. Dalam hal ini, keunikan warisan tambang batubara Ombilin Sawahlunto menunjukkan contoh rangkaian kombinasi teknologi dalam suatu lanskap kota pertambangan yang dirancang untuk efisiensi sejak tahap ekstraksi batubara, pengolahan, dan transportasi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam organisasi perusahaan, pembagian pekerja, sekolah pertambangan, dan penataan kota pertambangan yang dihuni sekitar 7.000 penduduk.

Selain kawasan tambang batubara Ombilin dan kawasan kota lama di Kota Sawahlunto; warisan budaya dunia juga diwakili oleh jalur kereta api dengan stasiun-stasiun, jembatan, dan terowongan yang melintasi beberapa kota/kabupaten lainnya di Sumatera Barat, yaitu Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, dan Kabupaten Padang Pariaman, dan diakhiri dengan Kawasan Silo Gunung di Pelabuhan Teluk Bayur di Kota Padang.

Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki total sembilan properti (khazanah) Warisan Dunia. Lima pada kategori Warisan Budaya, yaitu Kompleks Candi Borobudur (1991), Kompleks Candi Prambanan (1991), Situs Manusia Purba Sangiran (1996), Lanskap Budaya Provinsi Bali: Sistem Subak sebagai Manifestasi dari Filosofi Tri Hita Karana (2012), dan Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto (2019). Adapun pada kategori Warisan Alam terdapat empat warisan, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon (1991), Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorentz (1999), dan Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera (2004). 

Baca juga: Segera dibentuk badan pengelola Pertambangan Ombilin
Baca juga: Bawomataluo jadi situs warisan dunia, kunjungan wisatawan meningkat

Pewarta : Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar