Digelar lima tahun, Formula E disebut baru untung di tahun keempat

id Formula E,Anies Baswedan,Alberto Longo,Untung Formula E

Digelar lima tahun, Formula E disebut baru untung di tahun keempat

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) dan Chief Championship Officer Formula E Alberto Longo dalam konferensi pers Jakarta E-Prix 2020 di Lapangan Monas, Jumat (20/9/2019). (Antara/ Livia Kristianti)

Jakarta (ANTARA) - DKI Jakarta dipastikan akan menggelar kejuaraan balap mobil Formula E selama lima tahun berturut-turut, namun balapan mobil listrik ini disebut baru akan terlihat untung di tahun keempat penyelenggaraan.

Direktur Kejuaraan Formula E Alberto Longo, Jumat, mengakui bahwa di tahun pertama dan kedua, penyelenggara atau tuan rumah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk berinvestasi mempersiapkan balapan.

Baca juga: Formula E, Anies berharap dukung dongkrak ekonomi warga Jakarta

"Banyak perusahaan di tahun kedua atau bahkan tahun pertama sudah untung, namun karena Indonesia baru mulai untuk beberapa tahun awal akan banyak pengeluaran, namun semakin kecil seiring terus dilakukan evaluasi dan dipelajari bagaimana polanya. Pada tahun keempat mungkin sudah bisa untung dan tahun kelima untung besar," kata Longo di Jakarta.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan meski tidak langsung untung di tahun pertama, dirinya yakin Formula E akan positif bagi Jakarta.

"Yang harus kita perhitungkan adalah bagaimana dampaknya bagi Jakarta sendiri," kata Anies.

Anies menjelaskan bahwa dengan menggelar Formula E, Jakarta ingin memperbaiki lingkungan hidup dengan berkampanye penggunaan kendaraan berenergi ramah lingkungan termasuk listrik, sekaligus menggerakkan perekonomian di Jakarta dan menempatkan Jakarta dalam jajaran kota kelas dunia.

Bahkan, kata Anies dalam perhitungan konservatif pihak Pemprov, diperkirakan nilai keekonomian yang bergerak di Jakarta sekitar 78 juta Euro atau sekitar Rp1,2 triliun yang akan bergerak di Jakarta.

"Manfaat seperti inilah yang kita kerjakan. Karenanya dengan tidak hanya satu tahun, ada kesempatan tahun berikutnya bisa lebih baik lagi dan pasti berefek lebih besar. Kalau kita selenggarakan sekali, maka kita tidak punya kesempatan untuk mengembangkan ini," katanya.

"Tapi kalau ini menjadi sebuah event tahunan, maka dari sisi investasi akan berkembang.Bayangkan kalau kita menyelenggarakan Asian Games setiap tahun, maka tahun ini kita akan bisa melakukan tambahan-tambahan, ide-ide yang didapat dari tahun-tahun sebelumnya. Jadi kita melihatnya bukan seperti event organizer tapi kita melihatnya sebagai pengembangan Jakarta memanfaatkan event Formula E," ucapnya.

Baca juga: Direktur Formula E nilai visi Gubernur DKI sejalan soal lingkungan

Untuk balapan mobil listrik tersebut, Diketahui, DKI Jakarta sudah mengusulkan anggaran sebanyak 20,79 juta poundsterling atau sebesar Rp360 miliar dalam rancangan APBD-P 2019 yang telah disepakati sejak Selasa (13/8) lalu antara Pemprov dengan Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI Jakarta.

Uang tersebut, dinyatakan oleh Pemprov DKI Jakarta sebagai "Commitmen Fee" penyelenggaraan Formula E yang akan dibayarkan pada FIA sebagai pemegang merk Formula E.

Pada Kamis (15/8), Pemprov DKI Jakarta mengajukan sekitar Rp934 miliar sebagai dana tambahan untuk menggelar Formula E dalam pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) untuk Rancangan APBD tahun 2020.

Adapun pengajuan anggaran Rp934 miliar tersebut memiliki rincian biaya untuk penyelenggaraan sebesar 22 juta poundsterling atau sekitar Rp378 miliar dan biaya asuransi 35 juta euro atau sekitar Rp556 miliar (yang kemungkinan ditunda oleh DPRD). Dinas juga menyiapkan anggaran Rp600 juta untuk sosialisasi pra Formula E dalam kegiatan Jakarta Fun Race 2019.

Kemudian, Jakpro juga mengajukan anggaran senilai Rp305,2 miliar. Dengan demikian total rencana anggaran yang diajukan untuk penyelenggaraan balap Formula E adalah senilai Rp1,6 triliun.

Pewarta : Ricky Prayoga
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar