BMKG: Terjadi 1.163 kali gempa susulan di Ambon

id gempa ambon

BMKG: Terjadi 1.163 kali gempa susulan di Ambon

Distribusi bantuan bagi para pengungsi korban gempa bumi berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang Kota Ambon, Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat pada Kamis (26/9/2019). ANTARA/HO Humas PT WIKA/am.

Ambon (ANTARA) - Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Ambon, Andi Azhar mengatakan setelah gempa bumi tektonik 26 September 2019 sampai sekarang sudah terjadi 1.163 kali gempa susulan hingga 7 Oktober 2019 pukul 10:30 WIT.

"Berdasarkan informasi dari masyarakat sebanyak 124 kali gempa bumi tektonik susulan yang dirasakan," kata Andi Azhar di Ambon, Senin.

Gempa ini merupakan suatu kejadian pelepasan energi dari sebuah bidang yang mengalami defarmasi atau patahan akibat adanya pergerakan sehingga bidang yang bergeser ini ingin kembali ke posisi yang normal atau adanya proses stabilisasi.

Akibatnya, terjadi proses pelepasan energi dengan magnitudo yang relatif kecil setelah gempa bumi tektonik dengan magnitudo 6,8 dan diperbaharui menjadi 6,5.

Menurut dia, kalau dilihat dari data BMKG yang ada maka gempa susulan ini 90 persen bermagnitudo di bawah 3,5.

Baca juga: Pelayanan korban gempa Maluku terkendala persebaran penyintas

Baca juga: Siswa sekolah menghambur keluar ruangan saat gempa getarkan Ambon

 

Korban gempa Ambon di pengungsian mulai terserang penyakit



Penyebab terjadinya gempa-gempa susulan ini akibat aktivitas patahan yang berada di selatan Kairatu (Pulau Seram), Kabupaten Seram Bagian Barat yang memanjang ke Pulau Ambon.

Kemudian ada patahan paud yang memanjang dari selatan Gorom, Kabupaten Seram Bagian Timur hingga selatan Pulau Manipa yang panjangnya sekitar 450 Km.

"Namun, kejadian gempa bumi tektonik di selatan Kairatu itu kita sebut akibat segmen dari patahan tersebut," kata Andi Azhar.

Selanjutnya untuk penyebab aktivitas gempa bumi tektonik yang saat ini juga masih mengguncang Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru itu berbeda sumbernya.

"Yang di sana merupakan graben Aru yang dipengaruhi adanya sesar turun dari patahan patahan di graben tersebut," ujarnya. Graben atau slenk adalah hasil dari patahan pada kulit bumi yang mengalami depresi dan terletak di antara dua bagian yang lebih tinggi.

Baca juga: BUMN salurkan Rp2,5 miliar untuk korban bencana gempa Maluku

Baca juga: Nono Sampono akan bicarakan perbaikan RSUD Tulehu dengan Menkes


Dia juga mengakui fenomena gempa bumi ini merupakan suatu proses pelepasan energi dan sampai saat ini tidak ada satu pun negara dengan peralatan secanggih apa pun yang bisa memprediksi adanya gempa bumi tektonik di suatu tempat secara tepat waktu dan lokasi serta besaran magnitudo.

"Kami imbau masyarakat jika terjadi gempa bumi tektonik agar tetap tenang dan tidak panik serta utamakan berlindung di bawah meja atau kursi yang kuat ketika berada di dalam ruangan dan jangan percaya isu-isu atau hoaks yang sampai siang ini masih beredar," katanya.

Pada pukul 00:50 WIT jelang 7 Oktober 2019 juga terjadi gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 3,2 yang berada pada posisi 5 Km utara Ambon (dalam Teluk Ambon) dengan kedalaman 10 Km.

Lalu empat menit kemudian terjadi gempa susulan dengan magnitudo 2,5 yang terjadi di darat, tepatnya pesisir Kota Ambon dan kedua gempa ini dirasakan banyak warga.

"Siang ini juga terjadi gempa bumi tektonik susulan pukul 10:21 WIT bermagnitudo 4,1 berjarak 12 Km di arah selatan Kairatu pada kedalaman 10 KM sehingga masyarakat di Kota Ambon dan Kairatau merasakannya dengan skala III MMI," ujarnya.

Gempa bumi tektonik dengan magnitudo di bawah 4,1 tidak dapat membangkitkan energi tsunami.*

Baca juga: BMKG catat 1.120 gempa susulan Ambon

Baca juga: Pemprov Maluku perpanjang masa tanggap darurat pascagempa

Pewarta : Daniel Leonard
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar