Satu dari empat anak didiagnosa difteri di Sumut meninggal

id Difteri,Suspect difteri,RSUP Adam Malik,dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu MKed(Ped) SpA PhD (CTM),Anak di sumut didiagnosa difteri

Satu dari empat anak didiagnosa difteri di Sumut meninggal

Dokter spesialis anak sekaligus konsultan infeksi tropis RSUP Adam Malik, dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu MKed(Ped) SpA PhD (CTM) di RSUP Adam Malik, Jumat. (ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Medan (ANTARA) - Satu orang anak dari empat anak asal Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang didiagnosa mengidap suspect difteri meninggal dunia.

Keempatnya merupakan satu keluarga yang terdiri kakak beradik dan tiga orang anak masih dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Medan,  yakni YS (6), RS (3), MS (2).
 
Dokter spesialis anak sekaligus konsultan infeksi tropis RSUP Adam Malik, dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu MKed(Ped) SpA PhD (CTM), Jumat mengatakan bahwa kondisi ketiga pasien mulai membaik.
"Saat ini semua dalam kondisi bagus, sudah mengalami perbaikan jauh dari pertama kali sekali datang," katanya kepada wartawan di RSUP Adam Malik.
 
Ia menjelaskan, untuk pasien YS sudah diagnosa sebagai probable bakteri karena datang sudah dengan leher yang bengkak, kemudian pseudomembrannya sudah tertutup.
 
"Setelah kita berikan terapi dan responnya sangat bagus, hari ini sudah bersih semua, udah enggak ada lagi membrannya, kemudian klinis yang lain juga sudah enggak ada," ujarnya.
 
Sementara untuk RS dan MS , datang dengan kondisi tidak dengan leher yang bengkak, hanya selaput yang masih sedikit. "Sudah kita berikan terapi, kita diagnosa sebagai suspect difteri, dan direspon dengan sangat baik," jelasnya.
 
Ia menyebutkan, untuk pasien yang MS tidak diagnosa sebagai difteri karena tidak ada klinis ke arah difteri dan tidak ada selaput.
 
"Namun pasien tetap dilakukan observasi karena pasien berkontak dengan anggota keluarga yang lain.
 
Sementara untuk pasien yang meninggal yakni HS (5), ia menyebutkan bahwa pasien datang dengan kondisi sudah dengan nafas yang sesak, kemudian sudah mengorok, leher bengkak, penurunan kesadaran juga sudah terjadi.
 
"Pada saat sampai juga tekanan darah sudah rendah, kemudian nadi juga halus. Jadi memang penyakitnya sudah cukup berat untuk mendapatkan tata laksana pun karena progresif penyakitnya sudah berat, risikonya sangat besar untuk kematian," jelasnya.
 
 

Pewarta : Nur Aprilliana Br. Sitorus
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar