Pengamat: Tangkal radikalisme dengan Bela Negara era milenial

id Radikalisme

Pengamat: Tangkal radikalisme dengan Bela Negara era milenial

Warga berada di dekat spanduk penolakan terhadap teroris di kawasan Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (15/5). Hal tersebut guna menyuarakan sikap masyarakat menolak terorisme radikalisme serta dukungan untuk kepolisian dalam memberantas terorisme. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/18.

Jakarta (ANTARA) - Pengamat terorisme Letjen TNI (Purn) Agus Surya Bakti mengatakan Bela Negara era milenial menjadi hal penting dalam menangkal radikalisme.

"Untuk itu, warga negara mempunyai kewajiban untuk melakukan bela negara sesuai dengan profesi masing-masing dalam menangkal radikalisme," katanya di Jakarta, Kamis, dalam menyambut Hari Bela Negara yang jatuh setiap tanggal 19 Desember, demikian keterangan tertulis yang diterima Antara.

Baca juga: Wapres Ma'ruf: UIN harus bisa redam penyebarluasan paham radikal

Menurut dia, Bela Negara memiliki spektrum yang sangat luas di berbagai bidang kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, sosial hingga budaya.

Ia mengatakan bahwa dalam konteks zaman milenial seperti sekarang ini jika bicara bela negara tentunya sudah sangat jauh berbeda dengan pemahaman bela negara di masa lalu.

Baca juga: Mendikbud diminta fokus tanggulangi kampus terpapar radikalisme

Pada masa lalu bela negara itu kecenderungannya ada hubungan dengan militer, pakaian loreng, bahkan pelatihan ala militer yang juga dilakukan oleh institusi militer.

"Tetapi di era milenial sekarang ini yang namanya bela negara itu ada di dalam kehidupan kita masing-masing, seperti bagaimana kita membangun sebuah kehidupan di bidangnya masing-masing sesuai dengan profesi kita untuk mewujudkan yang terbaik. Itu wujud bela negara yang paling simpel dan paling mudah," katanya.

Baca juga: BNPT ajak generasi millenial tangkal radikalisme di dunia maya

Lebih lanjut mantan Sesmenko Polhukam ini menjelaskan, Bela Negara itu adalah sebuah kekuatan dari seluruh unsur masyarakat Indonesia dalam membela bangsa ini. Namun bukan berarti harus maju berperang, apalagi sekarang ini bukan zamannya perang.

"Perang sekarang adalah perang melawan kehidupan kita masing-masing. Seperti anak sekolah menyelesaikan sekolahnya, mahasiswa menyelesaikan kuliahnya, orang bekerja di pemerintahan, BUMN, swasta bagaimana harus bisa bekerja dengan baik agar hasilnya bisa menguntungkan terhadap semuanya. Kemudian tidak korupsi, lalu terbebas dari segala macam bentuk penyebaran paham kekerasan yang sekarang lagi masif di lingkungan kita seperti radikalisme negatif yang mengarah kepada terorisme. Jadi itulah wujud bela negara di era sekarang," ujar alumni Akmil tahun 1984 itu.

Baca juga: BNPT: Orang tua pegang kendali anak tangkal paham radikal

Ia mengatakan, tokoh masyarakat atau tokoh agama juga memiliki peran yang sangat penting dalam menangkal radikalisme.

"Kalau kita bisa melakukan itu semua dengan baik maka kita bisa mengeliminir radikalisme negatif itu tadi seperti kekerasan yang saya katakan tadi di mana mereka muncul dalam skala paling kecil dan paling besar sampai kepada masalah radikalisme yang berujung pada aksi terorisme," katanya.


Pewarta : M Arief Iskandar
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar