Sepekan, Presiden negatif COVID-19 hingga sumber gempa di selatan Bali

id Virus Corona,COVID-19,Presiden Negatif COVID-19,Pasien COVID-19 Sembuh,Cuka,Disinfektan,Gempa ,Tsunami

Sepekan, Presiden negatif COVID-19 hingga sumber gempa di selatan Bali

Lokasi gempa bumi 6,3 SR dengan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 11.4 LS dan 115.04 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 305 km arah Selatan Kota Denpasar, Bali pada kedalaman 55 km pada Kamis (19/3/2020) pukul 00.45 WIB (ANTARA/ HO-BMKG Karangkates Malang)

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah berita bidang humaniora dan warta bumi selama sepekan ini menjadi perhatian masyarakat mulai Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana yang dinyatakan negatif COVID-19 hingga sumber gempa di selatan Bali yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Presiden Jokowi mengumumkan bahwa berdasarkan hasil tes deteksi COVID-19 terhadap dirinya dan Ibu Negara Iriana menunjukkan hasil negatif.

"Saya dan Ibu Iriana sudah melaksanakan tes deteksi COVID-19 empat hari lalu dan sudah keluar hasilnya. Alhamdulillah dinyatakan negatif," kata Presiden dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (19/3).

Presiden kembali mengimbau kepada masyarakat untuk mencegah penularan virus corona penyebab COVID-19 dengan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah.

Presiden juga menyampaikan terima kasih dan pujian kepada para tenaga medis yang bekerja merawat para pasien yang terinfeksi COVID-19.

"Semoga kita semua diberikan kesehatan yang prima," ujarnya.

Berita tentang riwayat perjalanan pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 yang meninggal di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Medan juga merupakan salah satu berita yang banyak dibaca masyarakat.

Koordinator Penanganan COVID-19 RSUP Adam Malik Ade Rahmaini saat dikonfirmasi, Selasa (17/3) menyatakan pasien tersebut memiliki riwayat perjalanan dari Israel.

Meskipun berstatus PDP, Ade saat itu belum bisa menjelaskan apakah pasien tersebut meninggal karena positif COVID-19 atau tidak.

Cerita tiga pasien asal Depok yang dinyatakan sembuh dari COVID-19 setelah dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso juga banyak menarik perhatian pembaca.

"Banyak yang bertanya virus ini belum ada vaksinnya, kok pemerintah bisa gembar-gembor menyembuhkan orang," kata pasien kasus 03 yang bernama Ratri Anindyajati di Depok, Kamis (19/3).

Menurut Ratri, dia berhasil sembuh dari COVID-19 ketika memiliki keinginan kuat untuk sembuh dan mengatur pola pikir yang dapat menenangkan diri.

Obat-obatan yang Ratri konsumsi selama menjalani karantina hanya untuk meredakan berbagai gejala yang dia alami seperti flu dan sesak napas.

"Misalnya ada lendir, diberi obat batuk racikan. Tiga hari kemudian lendir saya hilang, obatnya juga dihentikan," katanya.

Perhatian masyarakat juga tertuju pada berita yang menyebutkan bahwa cuka empek-empek bisa menjadi salah satu unsur untuk dibuat menjadi disinfektan, sebagaimana zat asam lainnya.

"Setengah cangkir cuka untuk empek-empek yang asal, setengah cangkir air, ditambah minta esensial bisa menjadi disinfektan, antiseptik," kata Ketua Kolegium Pengurus Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (Hakli) Prof Arif Sumantri di Jakarta, Sabtu.

Arif mengatakan takaran minyak esensial yang ditambahkan sekitar 10 tetes hingga 24 tetes. Campuran ketiga unsur tersebut bisa digunakan sebagai disinfektan atau antiseptik yang saat ini banyak dicari seiring dengan wabah COVID-19.

Arif mengatakan cuka memiliki kandungan asam asetat yang bisa menjadi pembersih dan pembunuh mikroba alami. Keasaman yang tinggi membuat cuka bisa membunuh mikroba di permukaan benda.

Selain berita-berita yang berkaitan dengan virus corona penyebab COVID-19, perhatian pembaca antaranews.com juga mengarah pada berita zona sumber gempa di selatan Bali yang berpotensi menghasilkan gempa besar dan menimbulkan tsunami.

"Zona outer rise selatan Bali patut diwaspadai dan tidak boleh diabaikan karena mampu memicu gempa besar dengan mekanisme turun sehingga dapat menjadi generator tsunami," kata Kepala Bidang Mitigasi, Gempa Bumi, dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (19/3)

Sebelumnya, pada Kamis (19/3) dini hari terjadi gempa tektonik dengan Magnitudo 6,3 pada koordinat 11,4 derajat Lintang Selatan dan 115,04 derajat Bujur Timur atau 305 kilometer arah Selatan Denpasar di laut pada kedalaman 10 kilometer.

Daryono mengatakan gempa yang bersumber pada zona outer rise Bali tidak hanya sekali itu saja terjadi. Gempa-gempa yang pernah terjadi di zona itu antara lain 9 Juni 2016 dengan Magnitudo 6,0; 17 Maret 2017 dengan Magnitudo 5,3; dan 9 Juni 2019 dengan Magnitudo 5,1. (T.D018)

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar