Sebagian warga tetap ingin mudik untuk rayakan Lebaran menurut survei

id mudik 2020,dampak mudik,dampak covid,penanganan corona,virus corona,corona,covid-19,2019-ncov,novel coronavirus 2019

Sebagian warga tetap ingin mudik untuk rayakan Lebaran menurut survei

Arsip Foto. Warga melintas di dekat spanduk seruan untuk menunda mudik menjelang puasa dan Lebaran di Jalan Sudirman, Serang, Banten, Kamis (9/4/2020). Pemerintah pudat dan daerah berupaya menahan orang mudik guna mencegah penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/foc.

Jakarta (ANTARA) - Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian warga tetap akan mudik untuk merayakan Lebaran di kampung halaman meski pemerintah sudah menganjurkan warga menunda mudik guna menekan risiko penularan virus corona penyebab COVID-19.

Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) yang disiarkan Jumat menunjukkan bahwa meski 63 persen dari 2.437 responden di 34 provinsi yang disurvei menyatakan tidak akan mudik, masih ada 21 persen responden yang belum mengambil keputusan untuk mudik dan 12 persen akan tetap mudik.

Selain itu ada empat persen responden yang menyatakan sudah pulang kampung menurut survei perilaku mudik yang dilakukan secara daring dari 29 sampai 30 Maret 2020, sebelum penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta dan sebelum Presiden Joko Widodo mengumumkan larangan mudik bagi pegawai negeri sipil dan anggota TNI-Polri pada 9 April 2020. 

Berdasarkan persentase responden yang akan mudik menurut survei dan data mudik tahun 2019 yang menunjukkan 18,3 juta orang pulang kampung untuk merayakan Lebaran, jumlah warga yang mudik tahun ini diperkirakan dua juta lebih.

Direktur Riset Katadata Insight Center Mulya Amri menekankan pentingnya memperhatikan data responden yang menyatakan bakal tetap mudik serta mereka yang belum mengambil keputusan.

Menurut survei, responden yang tetap ingin mudik paling banyak pegawai swasta (35,6 persen) disusul pegawai negeri sipil (23,4 persen), dan pelajar atau mahasiswa (11,0 persen).

Hingga 96,1 persen responden yang akan mudik menyatakan akan menemui kerabat di kampung halaman yang berusia di atas 45 tahun, kelompok yang  rentan tertular COVID-19 di Indonesia.

Survei Katadata juga menunjukkan bahwa 39,4 persen warga yang sudah mudik meliputi pelajar atau mahasiswa, disusul karyawan swasta (23,1 persen). Selain mahasiswa dan karyawan swasta, pedagang kecil, karyawan toko, pegawai warung makan, dan buruh pabrik juga sudah mudik lebih awal.

Warga yang mudik lebih awal meninggalkan daerah tempat tinggal pada periode 1 sampai 5 Maret 2020 dan mencapai puncaknya pada periode 16 sampai 20 Maret 2020, saat Presiden mengeluarkan seruan untuk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah.

Sementara itu, dari responden yang menyatakan tidak mudik ada 54,6 persen yang menyatakan mengambil keputusan karena mengikuti imbauan pemerintah untuk tidak mudik demi mencegah penyebaran virus corona, 30,2 persen yang menyatakan takut jika kepulangan mereka akan menyebabkan penyebaran virus SARS-CoV-2.

"Ini menunjukkan bahwa seruan pemerintah cukup efektif didengar masyarakat, sehingga pesan ini perlu terus disampaikan dengan cara-cara yang tepat," kata Mulya.

Survei mengenai perilaku mudik ini dilakukan secara daring oleh Katadata Insight Center dengan menjaring 2.347 responden pengguna internet di Tanah Air.

Responden survei meliputi 37,8 persen warga dalam kelompok usia 17-29 tahun, 30,3 persen warga kelompok usia 30-40 tahun, 24 persen warga usia 41-50 tahun, 6,7 persen warga usia 51-60 tahun, dan 1,2 persen warga usia di atas 60 tahun. Perbandingan responden perempuan dan laki-laki dalam survei ini 53:47.

Baca juga:
Presiden larang ASN, TNI, Polri dan pegawai BUMN mudik
Pemerintah alihkan cuti bersama Idul Fitri ke 28-31 Desember

 

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar