PM Prancis: saatnya untuk perlonggar kebijakan karantina wilayah

id pm prancis,karantina wilayah,paris,virus corona jenis baru,covid-19

PM Prancis: saatnya untuk perlonggar kebijakan karantina wilayah

Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe pergi setelah rapat kabinet mingguan di Elysee Palace di Paris, Prancis, Rabu (19/7/2017). (REUTERS/Gonzalo Fuentes )

Paris (ANTARA) -
Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe mengatakan pemberlakuan karantina wilayah telah menyelamatkan 62.000 jiwa dalam sebulan, tetapi mempertahankan kebijakan itu akan meningkatkan risiko terhadap terpuruknya ekonomi.

Berbicara di parlemen, dia mengatakan sudah waktunya untuk menjelaskan kepada warga Prancis bagaimana karantina wilayah secara bertahap akan diperlonggar.

Warga Prancis harus belajar bagaimana hidup dengan virus corona jenis baru itu dan melindungi diri mereka sendiri, katanya.

Baca juga: Kematian COVID-19 di Prancis hampir 21.000

Sebelumnya, Para ilmuwan Prancis sedang bersiap meluncurkan uji coba manusia untuk menguji hipotesis mereka bahwa nikotin dapat membantu tubuh memerangi infeksi COVID-19.

Uji coba ini akan melibatkan kelompok petugas kesehatan dan pasien yang menggunakan patch (lembaran) nikotin dan kelompok lain yang menggunakan patch plasebo. Kemudian mereka akan diuji untuk melihat perbedaan dalam cara tubuh mereka merespons virus.

Uji coba ini merupakan tindak lanjut dari sebuah penelitian data kesehatan masyarakat Prancis, yang diterbitkan bulan lalu, yang tampaknya menunjukkan bahwa perokok memiliki kemungkinan 80% lebih rendah untuk terkena COVID-19 dibandingkan bukan perokok pada usia dan jenis kelamin yang sama.

Para ilmuwan berhipotesis dalam penelitian mereka bahwa nikotin, yang terkandung dalam rokok, dapat mempengaruhi kemampuan molekul virus corona melekat pada reseptor di dalam tubuh.

"Anda memiliki virus yang tiba di reseptor, dan nikotin menghalangi itu, dan mereka berpisah," kata Jean-Pierre Changeux, profesor emeritus ilmu syaraf di institut Pasteur Prancis, menggambarkan proses dari hipotetis itu.

Dia ikut menulis penelitian dengan Zahir Amoura, seorang profesor di Rumah Sakit Universitas Pitie-Salpetriere Paris, dan mereka berdua melakukan uji coba itu.

Reuters

Baca juga: Kerusuhan terjadi di tengah karantina wilayah pinggiran Paris
Baca juga: Gel pembersih tangan disediakan di halte bus pascakarantina di Paris

Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar