Warga Hong Kong nyalakan lilin peringati tragedi Tiananmen

id Hong Kong,China,Tiannamen,Corona COVID-19

Warga Hong Kong nyalakan lilin  peringati tragedi Tiananmen

Ratusan ribu masyarakat mengikuti penyalaan lilin di Victoria Park, Hong Kong, Senin (4/6), untuk memberikan penghormatan pada korban tewas oleh militer saat gerakan pro demokrasi di Lapangan Tiananmen Beijing 4 Juni 1989 dan kemarin merupakan peringatan 23 tahun peristiwa tersebut. (REUTERS/Bobby Yip)

Hong Kong (ANTARA) - Tahun ini akibat pembatasan virus corona, masyarakat Hong Kong memilih memperingati kematian para demonstran prodemokrasi yang terbunuh di Lapangan Tiananmen Beijing pada tahun 1989 dengan menyalakan lilin di seluruh kota, menurut seorang penyelenggara pada Rabu.

Peringatan tragedi Tiannamen biasanya dirayakan dengan aksi massal di Hong Kong.

Peringatan peristiwa 4 Juni penumpasan oleh penguasa komunis China pada tahun ini akan sangat sensitif, setelah protes massa antipemerintah yang kadang-kadang diwarnai oleh kerusuhan dan kekerasan terjadi di kota semi-otonom Hong Kong sejak Juli tahun lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan ribu orang di Hong Kong telah bergabung dengan aksi nyala lilin dan damai di sebuah taman di pusat kota dalam peringatan terbesar penumpasan 1989 di Beijing, ketika pasukan China menembaki para pemrotes yang dipimpin mahasiswa.

Pada Selasa, pihak berwenang Hong Kong mengatakan batas pertemuan kelompok tidak lebih dari delapan orang akan diperpanjang setidaknya sampai akhir hari pada 4 Juni.

Baca juga: China kritik prasangka AS terhadap Peringatan Tiananmen
Baca juga: China halangi peringatan tragedi Tiananmen


Lee Cheuk-yan, ketua Aliansi Hong Kong dalam Mendukung Gerakan Demokratis Patriotik China, yang menyelenggarakan acara tahunan itu, mengatakan kepada Reuters pada Rabu bahwa ia percaya motif perpanjangan itu adalah "penindasan politik."

Polisi masih harus menanggapi permohonan agar acara tahunan itu diadakan di Taman Victoria, Lee mengatakan. Ia menambahkan bahwa dia "tidak optimistis."

"Kita harus punya rencana B," kata Lee. "Alih-alih di satu tempat, kita akan melakukannya di mana-mana, masih dengan cahaya lilin yang kuat untuk mengutuk pembantaian dan berkabung bagi mereka yang meninggal pada tahun 1989."

Jumlah korban tewas yang diberikan oleh pejabat beberapa hari setelah penumpasan itu sekitar 300 orang, sebagian besar dari mereka tentara, dengan hanya 23 siswa dikonfirmasi tewas. China tidak pernah memberikan laporan lengkap tentang aksi kekerasan, tetapi kelompok-kelompok hak asasi manusia dan saksi mata mengatakan jumlahnya bisa mencapai ribuan. Topik itu tabu di China.

Lee mengatakan peringatan peristiwa Tiananmen mewakili "tes litmus (kertas warna) untuk satu negara, dua sistem" - perjanjian yang mengatur penyerahan kota itu dari Inggris ke China pada tahun 1997, yang memberikan kebebasan yang tidak dapat ditemukan di daratan.

Menteri Kesehatan Sophia Chan dan pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengatakan pada Selasa langkah-langkah kesehatan tidak didasarkan pada pertimbangan politik.

Hong Kong telah melaporkan sejumlah kasus baru virus corona baru-baru ini, dengan jumlah total yang bertahan di atas 1.000, tetapi pada 13 Mei kota itu melaporkan kasus pertama dalam lebih dari tiga minggu yang melibatkan seseorang yang belum bepergian ke luar negeri.

Pihak berwenang mengizinkan bar, bioskop dan pusat kebugaran dibuka kembali awal bulan ini dan mengatakan pertemuan keagamaan dapat dilanjutkan dengan aturan keselamatan tertentu. Rumah mandi, bar karaoke, dan klub malam akan tutup selama seminggu.

Sumber; Reuters

Baca juga: Presiden Xi pimpin peletakan karangan bunga di Tiananmen
Baca juga: Tiananmen dapat ancaman bom melalui WeChat

Pewarta : Gusti Nur Cahya Aryani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar