BMKG pastikan dentuman di Bandung bukan akibat gempa maupun petir

id Suara dentuman,Dentuman,Dentuman di Bandung

BMKG pastikan dentuman di Bandung bukan akibat gempa maupun petir

Ilustrasi - BMKG pastikan bunyi dentuman di Jateng bukan bersumber dari gempa.

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan suara dentuman yang dilaporkan terdengar oleh beberapa warga di Bandung dan sekitarnya pada Kamis pagi, bukan disebabkan gempa bumi maupun petir.

"Hasil monitoring BMKG tidak ada aktivitas gempa bumi signifikan yang terjadi di Bandung dan sekitarnya sejak pukul 00.00 hingga 10.00 WIB," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono yang dihubungi di Jakarta, Kamis.

Begitu pula dengan hasil monitoring petir menggunakan peralatan "lightning detector" menunjukkan tidak ada kejadian petir di Bandung dan sekitarnya antara pukul 08.30 sampai dengan 10.00 WIB.

Cuaca di Bandung dan sekitarnya sejak Kamis pagi hingga pukul 10.00 WIB dalam kondisi cerah dan berawan, serta tidak terjadi hujan.

"Sehingga berdasarkan data tersebut, suara dentuman tidak bersumber dari peristiwa gempa bumi, petir, atau cuaca di Bandung dan sekitarnya," jelasnya.

Baca juga: Warga Kabupaten Bandung dengar suara dentuman dari langit

Warga mendengar suara dentumam di atas langit Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Kamis.

Salah seorang warga Kabupaten Bandung, Nuruliah, menyebut suara dentuman di atas langit terdengar olehnya sekitar pukul 09.30 WIB.

"Awalnya teman saya nge-WA jam delapanan pagi. Dia ngasih tahu ada suara dentuman. Eh pas ke sini-sini saya dengar sendiri suaranya," kata dia.

Warga lainnya, Hidayat, menuturkan suara dentuman terdengar beberapa kali olehnya sekitar pukul 08.00 WIB.

Warga Desa Bojongkunci, Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Bandung itu, mengaku mendengar suara dentuman hingga enam kali.

Baca juga: Stageof Banjarnegara analisis suara dentuman di sebagian Jateng
Baca juga: Ini penjelasan Volkanolog ITB tentang suara dentuman

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar