Kemendikbud: PJJ bikin jurang siswa kaya dan miskin semakin terlihat

id Kemendikbud, PJJ bikin jurang siswa dari keluarga miskin dan kaya terlihat,totok suprayitno,iwan syahril

Kemendikbud: PJJ bikin jurang siswa kaya dan miskin semakin terlihat

Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno dalam taklimat media di Jakarta, Senin (6/7). ANTARA/Indriani

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno mengatakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan selama pandemi COVID-19 membuat jurang antara siswa yang berasal dari keluarga kaya dan miskin menjadi semakin terlihat.

"Nah, yang paling rentan adalah anak-anak yang secara sosio ekonomi tertinggal, keluarga yang masih kurang pemahamannya. Ini menjadi langkah pertama dan kemungkinan besar gap atau jurang antaranak bisa terjadi, yang banyak tertinggal adalah anak dari sosio ekonomi rendah," ujar Totok dalam taklimat media di Jakarta, Senin.

Anak yang berasal dari keluarga sosio ekonomi rendah kesulitan dalam mengakses pembelajaran karena ketiadaan infrastruktur, misalnya tidak memiliki gawai.

Baca juga: IKA UPI: Tak semua guru siap gelar belajar daring saat pandemi
Baca juga: Yogyakarta akan uji coba salah satu platform belajar daring


Maka hal pertama yang dilakukan ketika anak kembali masuk sekolah adalah asesmen, yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa. Asesmen tersebut tidak diselenggarakan oleh negara dan bukan seperti Ujian Nasional (UN).

"Setiap guru harus melakukan diagnosis pada siswa, bahkan pada kondisi normal pun guru harus mampu melakukan penilaian pada siswa," terang Totok.

Untuk mengantisipasi ketimpangan tersebut, Kemendikbud kemudian membuat modul-modul pembelajaran. Terutama untuk siswa pada jenjang SD. Melalui modul tersebut, anak bisa belajar secara mandiri meskipun tidak memiliki akses internet atau gawai.

Baca juga: Pemerhati: Guru perlu pendekatan berbeda untuk proses belajar daring
Baca juga: Penggunaan gawai selama belajar dari rumah harus sesuai kebutuhan


Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril, mengatakan pandemi COVID-19 telah memaksa banyak pihak untuk belajar dari rumah dan harus beradaptasi dengan kondisi tersebut.

"Yang namanya belajar, masih banyak yang gagap. Komitmen kami agar guru tidak merasa asing lagi, kami menyediakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru," kata Iwan.

Misalnya saja, lanjut Iwan, laman Guru Berbagi, yang mana guru dapat saling berbagi praktik baik pembelajaran kepada guru lainnya. Kemendikbud juga menyediakan pelatihan bagi para guru agar dapat menyelenggarakan PJJ dengan lebih baik pada tahun ajaran baru.

Baca juga: Kemendikbud: Belajar via daring tidak hanya terfokus pada akademik
Baca juga: Belajar daring tidak optimal, Pemerintah pertimbangkan buka sekolah

 

Pewarta : Indriani
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar