Polisi: TKP awal mayat diduga dimutilasi di Jakarta Pusat

id korban mutilasi, jakarta selatan, apartemen kalibata city, polsek pancoran, polres metro jakarta selatan, kriminal, orang hilang

Polisi: TKP awal mayat diduga dimutilasi di Jakarta Pusat

Ilustrasi - Mayat tanpa identitas. ANTARA/Ridwan Triatmodjo/aa.

Jakarta (ANTARA) - Pimpinan Polsek Pancoran menyebutkan mayat laki-laki diduga korban mutilasi yang ditemukan di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, terindikasi pelaku membunuh korban di wilayah Jakarta Pusat.

"Ya benar awalnya TKP (tempat kejadian perkara) di Jakpus, kemudian korban dibuang di Kalibata city," kata Kapolsek Pancoran Kompol Anies Supriyanto saat dihubungi Rabu malam.

Lebih lanjut Anies menjelaskan, korban yang diketahui bernama Rinaldi itu terlebih dulu dibunuh di wilayah Jakarta Pusat, lalu oleh pelaku rencanannya akan disimpan di Kalibata, Jakarta Selatan.

"Maksudnya dibunuh di Jakpus, mau ditanam atau disimpannya di Kalibata," ujar Anies.

Anies membenarkan bahwa korban dimutilasi, namun tidak mengetahui pasti bagian tubuh mana saja yang dipotong, karena saat tiba di lokasi, petugas Jatanras Polda Metro Jaya sudah membawa jenazah ke Rumah Sakit Polri di Kramatjati Jakarta Timur.

Saat ini lokasi penemuan mayat telah dipasang garis polisi setelah dilakukan olah tempat kejadian perkara, sedangkan penyelidikan ditangani oleh Polda Metro Jaya.

"Iya dimutilasi, sekarang sudah dibawa ke Kramatjati," ujarnya.

Sebelumnya, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budi Sartono menyebutkan penemuan mayat korban berawal dari laporan orang hilang yang dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 12 September 2020.

Korban yang dilaporkan hilang bernama lengkap Rinaldi Harley Wismanu berumur 32 tahun. Korban dilaporkan telah hilang sejak 9 September 2020.

Baca juga: Polisi selidiki penemuan mayat dimutilasi di Kalibata City
Baca juga: Suami-istri pembunuh anak kandung sempat lapor ke Polsek Setia Budi
Baca juga: Jaksa terima pelimpahan berkas kasus pembunuhan LNS

 

Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar