Pakar: realisasi PEN di Sulsel bermanfaat untuk atasi masalah sosial

id PEN, realisasi BI Sulawl, ekonom Unhas

Pakar: realisasi PEN di Sulsel bermanfaat untuk atasi masalah sosial

Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin Dr Marzuki, DEA (kiri). (ANTARA/Suriani Mappong).

Makassar (ANTARA) - Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin Dr Marzuki, DEA menilai realisasi dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Sulawesi Selatan telah bermanfaat untuk mengatasi persoalan sosial selama pandemi COVID-19.

Marzuki di Makassar, Senin, mengatakan kondisi itu terlihat dari tingginya penyerapan PEN untuk belanja perlindungan sosial yang hingga akhir November 2020 telah mencapai Rp4,64 triliun.

Menurut dia, penyerapan belanja yang tinggi di wilayah ini sudah tepat mengingat bantuan sosial dapat mengatasi masalah kemiskinan maupun pengangguran serta persoalan ekonomi secara keseluruhan.

"Sebagai gambaran, jika seseorang terinfeksi COVID-19, selain mempengaruhi interaksi sosialnya, karena harus mengisolasi diri, juga akan mempengaruhi sektor ekonomi di sekitarnya," katanya.

Baca juga: Sri Mulyani sebut realisasi anggaran PEN capai 63,3 persen

Terkait perkembangan ekonomi Sulsel 2021, ia meyakini kondisinya akan lebih baik dengan adanya perbaikan sejumlah indikator seperti konsumsi rumah tangga, karena adanya dukungan belanja perlindungan sosial.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya risiko karena kelompok menengah atas yang kemungkinan masih menunda belanja karena kekhawatiran dari perkembangan penanganan pandemi.

Selain itu, investasi dapat meningkat signifikan seiring dengan kelanjutan proyek pembangunan fisik yang tertunda. Juga kinerja ekspor sedikit membaik, kendati impor masih mengalami penurunan.

Baca juga: Wapres: UMKM jadi motor pemulihan ekonomi di tengah pandemi

Sebelumnya, ia juga mengatakan pandemi COVID-19 telah memperlambat kinerja semua lini lapangan usaha, termasuk sektor pertanian Sulsel yang pertumbuhannya sempat terkoreksi hingga minus dua persen.

"Sulsel yang selama ini sebagai daerah penyangga pangan nasional, namun kini sektor pertaniannya anjlok hingga minus dua persen. Tentu akan berpengaruh dengan daerah lainnya" kata Marzuki.

Padahal, daerah lain khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sangat bergantung pada suplai beras dari Sulsel, sehingga jika produksi pertanian di daerah ini terganggu, maka daerah lain ikut merasakan dampaknya.

Untuk itu, kondisi ini juga memberikan pekerjaan rumah bagi para pengambil kebijakan di Sulsel, mengingat perekonomian di wilayah ini sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian.

 

Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar