Pakar gizi UI: Cegah anemia di tengah pandemi COVID-19

id Anemia, Pakar Gizi, Hari Gizi Nasional,UI,Prof Endang Achadi

Pakar gizi UI: Cegah anemia di tengah pandemi COVID-19

Pakar gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof dr. Endang Achadi berbicara dalam acara temu media secara virtual untuk memperingati Hari Gizi Nasional ke-61, di Jakarta, Jumat (22/1/2021). (ANTARA/Katriana.

Jakarta (ANTARA) - Pakar gizi Universitas Indonesia (UI) mengatakan anemia perlu dicegah, terutama di tengah pandemi COVID-19, karena anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19.

"Salah satu akibat dari anemia adalah turunnya imunitas tubuh. Imunitas turun ini menyebabkan mudah menderita penyakit infeksi," kata Pakar gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof dr. Endang Achadi dalam temu media secara virtual untuk memperingati Hari Gizi Nasional, di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan upaya pencegahan terhadap anemia sangat penting karena jumlah penderita anemia di Indonesia cukup tinggi, dengan lebih dari seperempat anak usia 12 bulan - 12 tahun menderita anemia. Kemudian pada remaja usia 13 - 18 tahun prevalensinya juga tinggi. Terlebih pada ibu hamil yang meningkat hingga 48,9 persen berdasarkan data pada 2018.

Selain karena jumlah penderita anemia di Indonesia cukup tinggi, penyakit anemia juga perlu segera diatasi karena menimbulkan banyak gangguan terhadap kesehatan hingga menyebabkan kematian pada ibu hamil bilamana kekurangan banyak darah.

"Karena rendahnya Hb (hemoglobin) menyebabkan rendahnya oksigen yang dibawa ke seluruh tubuh, termasuk otak dan otot. Maka produktivitas dan prestasi turun. Dan tidak hanya otot dan otak, tapi fungsi organ-organ lain juga turun," katanya.

Hemoglobin dalam ilmu kesehatan adalah protein kaya zat besi dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh

Ia mengatakan pada remaja, kekurangan zat besi karena anemia dapat menurunkan konsentrasi belajar, dan membuatnya mudah kelahan dan mengantuk.

"Hal itu disebabkan oleh kebutuhan oksigen yang meningkat, tetapi tidak disertai dengan adanya persediaan oksigen yang cukup di Hb-nya, di sel darah merahnya, akibatnya tidak konsentrasi dan mudah mengantuk," kata Endang.

Selain konsentrasi turun, kurangnya zat besi dalam darah juga menyebabkan turunnya produktivitas karena asupan oksigen yang dibawa ke dalam otot juga berkurang.

Selanjutnya, di tengah pandemi COVID-19 yang penularannya terus meningkat, menjaga daya tahan tubuh adalah kunci utama untuk melawan penyakit yang ditularkan oleh virus SARS-CoV-2 tersebut.

Sayangnya, penyakit anemia juga dapat menurunkan daya tahan tubuh. Sehingga jika anemia tidak segera diatasi, maka risiko terinfeksi COVID-19 akan menjadi lebih besar.

Adapun pada ibu hamil, kekurangan zat besi karena kebutuhan yang meningkat saat hamil juga bisa menyebabkan risiko pendarahan saat lahir hingga menyebabkan kematian.

"Kita tahu bahwa pendarahan adalah salah satu penyebab kematian ibu paling tinggi di Indonesia maupun di dunia. Oleh karena itu, risiko kematian ibu juga menjadi tinggi," kata Endang.

"Selain itu, kekurangan zat besi juga menghambat pertumbuhan bayi. Sehingga risiko anak lahir dengan prematur, lahir dengan berat badan lahir rendah, kemudian lahir dengan panjang badan rendah, itu juga meningkat kalau ibunya anemia," katanya.

Untuk itu, upaya pencegahan anemia harus terus menerus diupayakan, baik oleh pemerintah, maupun oleh tiap-tiap individu itu sendiri. Salah satu cara untuk mencegah anemia adalah dengan makanan dengan gizi seimbang, terutama yang kaya akan zat besi, sehingga semua kebutuhan gizi bagi tubuh dapat terpenuhi, demikian Endang Achadi.

Baca juga: 5 cara cegah anemia yang mudah dilakukan

Baca juga: Anemia saat hamil dan asap rokok dapat akibatkan "stunting" bayi

Baca juga: Kemenkes: lima dari 10 ibu hamil anemia potensi lahirkan anak stunting

Baca juga: Daging khusus vegetarian cegah anemia inovasi mahasiswa IPB


 

Pewarta : Katriana
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar