Dokter: Peningkatan D-dimer terjadi pada pasien COVID-19 berat

id D-dimer,penyebab d-dimer,erlina burhan,dokter paru,pasien COVID-19,d-dimer COVID-19

Dokter: Peningkatan D-dimer terjadi pada pasien COVID-19 berat

Salah seorang warga melakukan tes cepat antigen guna mendeteksi COVID-19 di salah satu layanan kesehatan di Jakarta. ANTARA/Muhammad Zulfikar.

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis paru dr Erlina Burhan mengatakan peningkatan D-dimer biasanya terjadi pada pasien COVID-19 dengan kondisi berat yang dipicu oleh sejumlah faktor tertentu.

"Pemicunya ada beberapa hal, bisa karena sudah ada kelainan kardiovaskular ditambah lagi dengan faktor infeksi akibat virus ini," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Kondisi tersebut, menurut dia, memicu terjadinya sumbatan ataupun faktor pembekuan di darah sehingga menjadi terganggu.

Secara umum, ia menjelaskan D-dimer ialah salah satu parameter yang diperiksa dari darah dan merupakan penanda beratnya suatu infeksi.

Baca juga: Dokter paru: Pasien COVID-19 rentan terkena happy hypoxia

Baca juga: Dokter: Happy hypoxia COVID-19 hanya terjadi pada orang dengan gejala


Selain itu juga merupakan salah satu faktor yang bisa juga menimbulkan kerusakan untuk organ-organ lain melalui pembuluh darah.

"Jadi pemeriksaan D-dimer dilakukan dari darah dan normalnya berada pada angka 500," ujar dia.

Terkait terjadinya peningkatan D-dimer pada pasien COVID-19, kata dia, biasanya karena reaksi dari proses implamasi yang ditimbulkan oleh virus.

Dengan kata lain, jika angka D-dimer seseorang tersebut naik maka hal itu sudah menunjukkan bahwa kondisi penyakit yang bersangkutan sudah lanjut.

Namun di sisi lain, kondisi peningkatan D-dimer tidak selalu terjadi pada semua pasien. Apalagi jika pasien bergejala ringan, orang tanpa gejala ataupun sedang biasanya belum terjadi peningkatan.

Untuk di Tanah Air, ia menyebutkan sekitar 80 persen pasien bergejala dan orang tanpa gejala sehingga sebenarnya tidak masalah dengan D-dimer.

Ia menegaskan yang perlu dilakukan saat ini adalah menguatkan prinsip pencegahan. Hal itu termasuk pula meningkatkan penelusuran kasus dengan benar, masif dan agresif agar kasus yang ditemukan hanya orang tanpa gejala atau ringan bahkan tidak perlu dirawat kalaupun terkonfirmasi positif COVID-19.*

Baca juga: Erlina Burhan: Nakes perempuan punya peran ganda

Baca juga: Erlina Burhan: Perempuan harus bisa berperan dalam pandemi COVID-19

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar