PKJS-UI apresiasi dan dorong perkuat penurunan stunting saat pandemi

id stunting,universitas indonesia

PKJS-UI apresiasi dan dorong perkuat penurunan stunting saat pandemi

Kader Posyandu mengukur tinggi badan dari bocah saat melakukan pelayanan jemput bola di kawasan Green Garden, Rorotan, Jakarta Utara, Kamis (18/2/2021). Puskesmas Kelurahan Rorotan melakukan pelayanan jemput bola dikarenakan masih tingginya angka penularan COVID-19 di Ibu Kota. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.)

Jakarta (ANTARA) - Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) mendorong usaha memperkuat penurunan stunting saat pandemi dengan memanfaatkan momentum itu untuk mengendalikan perilaku merokok yang terkait erat dengan potensi stunting.

"Sebagaimana studi PKJS-UI yang menunjukkan penerima bantuan sosial (bansos) mengonsumsi rokok 3,5 batang/kapita/minggu lebih tinggi dibandingkan bukan penerima bansos.

"Selain itu, komposisi rata-rata belanja kebutuhan sehari-hari untuk rokok menghabiskan lebih dari setengah belanja untuk bahan makanan," kata Peneliti dan Program Manajer Pengendalian Tembakau PKJS-UI Dr. Renny Nurhasana dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Menurut Renny, hal itu berakibat pada potensi anak mengalami stunting karena kebiasaan merokok menggeser kebutuhan utama untuk makanan sehingga pemenuhan kuantitas dan kualitas nutrisi selama masa tumbuh kembang anak tidak tercukupi dengan baik.

Dari hasil studi PKJS-UI menunjukkan bahwa anak dari orang tua perokok memiliki tinggi badan 0,34 cm dan berat badan 1,5 kg secara rata-rata lebih rendah dibanding anak dari orang tua bukan perokok. Kemungkinan stunting pada anak dari orang tua yang merokok 5,5 persen poin lebih tinggi dibanding anak dengan orang tua yang bukan perokok.

Baca juga: SEAMEO : "stunting" hambat terciptanya generasi emas

Baca juga: Pengeluaran rokok setara dengan belanja sayur dan susu


Dalam kesempatan tersebut PKJS-UI memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah berkolaborasi untuk mendukung penurunan angka stunting Indonesia. Hal itu didukung oleh pernyataan dari pihak kementerian/lembaga tentang kaitan antara perilaku merokok dan bergesernya konsumsi antara kebutuhan pokok dengan pembelanjaan rokok.

Dia memberikan contoh seperti pernyataan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy seperti yang dilansir dari situ Kemenko PMK (Nias Utara, 16/3) yang juga menekankan kepada para ayah dengan anak stunting untuk berhenti merokok dan mengalihkan uang rokok untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

PKJS-UI menegaskan akan terus mendukung pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut agar berjalan dengan tegas, optimal, dan berdampak.

Pandemi COVID-19 diharapkan dapat menjadi momentum untuk mengendalikan perilaku merokok masyarakat selain mencegah faktor risiko terinfeksi virus COVID-19, penurunan prevalensi perokok ini juga dapat mempengaruhi keberhasilan pencapaian penurunan prevalensi stunting sebagai salah satu target RPJMN 2020-2024.

Renny menyampaikan bahwa untuk memaksimalkan pencapaian sumber daya manusia yang berkualitas, pengendalian konsumsi rokok tidak hanya ditujukan kepada perokok dewasa, namun juga pencegahan pada perokok pemula. Diperlukan kebijakan lintas sektor kementerian/lembaga dalam pengendalian dan pencegahannya.

"Anak-anak dan remaja harus dilindungi dari jebakan produk adiksi yang mematikan ini. Beberapa langkah kebijakan yang dapat dilakukan di antaranya pemerintah, terutama Kementerian Kesehatan harus segera menyelesaikan revisi PP 109/2012 untuk memperkuat regulasi terkait pengaturan peredaran rokok," ujarnya.

Baca juga: UI: Rokok berdampak pada kemiskinan hingga kekerdilan

Baca juga: Anemia saat hamil dan asap rokok dapat akibatkan "stunting" bayi

 

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar