Biden jajaki pertahankan pasukan kotraterorisme AS di Afghanistan

id Biden, Afghanistan, perdamaian, Taliban

Biden  jajaki pertahankan pasukan kotraterorisme AS di Afghanistan

Presiden AS Joe Biden memberikan pernyataan usai bertemu dengan pemimpin warga Asia-Amerika membahas "serangan dan ancaman yang terjadi terhadap komunitas," saat mampir di Universitas Emory di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Jumat (19/3/2021). REUTERS/Carlos Barria/FOC/djo.

Washington (ANTARA) - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Joe Biden berupaya mempertahankan pasukan AS di Afghanistan melewati tenggat 1 Mei, kata seorang anggota parlemen AS, Adam Smith , Rabu (24/3).

Upaya tersebut, kata sang anggota parlemen, dijalankan sambil AS menjajaki kesepakatan --yang menetapkan bahwa Taliban akan mengizinkan pasukan kontraterorisme AS tetap tinggal di Afghanistan saat mereka menghadapi ISIS,

Smith, ketua Komite Angkatan Bersenjata Dewan Perwakilan Rakyat AS, memberikan perincian baru tentang langkah Presiden Biden dalam proses perdamaian Afghanistan yang diwarisinya dari pemerintahan Trump.

Departemen Luar Negeri menyerahkan pertanyaan-pertanyaan soal itu ke Gedung Putih.

Gedung Putih dan Pentagon belum menanggapi permintaan komentar.

Sementara itu, para pejabat AS mengatakan Biden belum membuat keputusan tentang tenggat untuk menarik pasukan terakhir AS dari konflik Afghanistan --masa perang terlama yang dijalani AS. 

Biden mengatakan akan cukup sulit untuk memenuhi batas waktu yang ditetapkan dalam kesepakatan Februari 2020 dengan Taliban.

Ketika berbicara di forum daring majalah Kebijakan Luar Negeri, Smith mengatakan dia berbicara dengan penasihat keamanan nasional Jake Sullivan dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin tentang penarikan itu.

"Saya pikir ada anggapan umum bahwa 1 Mei terlalu cepat, hanya secara logistik," katanya. "Kita punya ... hampir 3.500 tentara di Afghanistan. Sekutu kita memiliki sekitar 7.000".

"Kita tidak dapat menarik lebih dari 10.000 pasukan dengan cara apa pun dalam enam minggu," katanya.

Dia menambahkan bahwa tugas pemerintah adalah berbicara dengan Taliban agar kelompok itu mengizinkan pasukan yang dipimpin AS untuk tinggal sedikit lebih lama.

Dia menyadari bahwa Taliban menuntut semua pasukan asing pergi. Jika itu tetap pendirian mereka, katanya, "Menurut saya, kita tidak punya banyak pilihan selain pergi", termasuk pasukan anti-terorisme.

"Apa yang ingin dilakukan oleh pemerintahan Biden adalah bernegosiasi melewati 1 Mei dan kemudian setidaknya menjajaki opsi: apakah Taliban berubah pikiran saat mereka ... memerangi ISIS hampir sama seperti mereka melawan pemerintah Afghanistan," Smith melanjutkan.

"Mungkin posisi mereka berubah tentang kehadiran AS? Saya meragukan itu. Tapi saya pikir pemerintah menganggap pembicaraan itu layak dilakukan," katanya.

Taliban telah memerangi afiliasi lokal ISIS, dan serangan-serangan udara AS terhadap ISIS terbukti penting untuk membantunya mengalahkan saingan mereka itu.

Tapi, para ahli mengatakan, ISIS tetap menjadi ancaman serius.

Taliban telah mengindikasikan mereka akan melanjutkan menyerang pasukan asing jika Biden gagal memenuhi tenggat waktu 1 Mei, dan beberapa ahli meragukan mereka akan mengizinkan pasukan AS untuk tinggal.

Sumber: Reuters

Baca juga: Taliban tuntut Biden penuhi janji penarikan pasukan AS

Baca juga: Taliban, pemerintah Afghanistan sepakat percepat perundingan

Baca juga: Stoltenberg: Penarikan NATO di Afghanistan tergantung level kekerasan

 

Jusuf Kalla kunjungi Afghanistan demi lanjutkan misi perdamaian


Pewarta : Mulyo Sunyoto
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar