Dorong 500.000 eksportir,pelaku usaha diminta manfaatkan digitalisasi

id kemenkop ukm, umkm, digitalisasi umkm, platform digital. e-commerce, marketplace, 500 ribu eksportir,eksportir, produk dalam negeri, kadin, ekspor pro

Dorong 500.000 eksportir,pelaku usaha diminta manfaatkan digitalisasi

Pekerja menyelesaikan produksi ukulele di galeri Mahardika Instrument, Dago Pakar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (2/7). Asosiasi UMKM Indonesia mencatat, jumlah eksportir produk UMKM di Indonesia hanya mencapai angka lima Persen yang diakibatkan oleh biaya untuk mengekspor yang cenderung mahal. ANTARA JABAR/Raisan Al Farisi/agr/18

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah meminta pengusaha untuk bisa memanfaatkan peran digitalisasi untuk bisa memperluas jaringan usaha ke pasar global sekaligus mendorong target terciptanya 500 ribu eksportir baru hingga 2030 mendatang.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Dwi Andriani Sulistyowati dalam webinar Wujudkan 500.000 Eksportir Baru bersama Shopee dan Sekolah Ekspor, Kamis, mengatakan UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) perlu melakukan penetrasi digitalisasi untuk bisa bertahan di tengah masa menantang saat ini.

"Penetrasi digitalisasi UMKM masih memiliki gap (celah) yang besar dan ini harus diisi pelaku usaha. Berkembangnya landscape pasar serta kondisi pandemi yang membuat masyarakat memiliki alternatif dalam memenuhi kebutuhannya, di situlah pentingnya e-commerce sebagai tempat untuk memasarkan produk UMKM itu sendiri," katanya.

Baca juga: Presiden Jokowi: Indonesia perlu lebih banyak UMKM eksportir

Dwi menuturkan, melalui e-commerce, UMKM di Indonesia kerap memasarkan produk bahkan memanfaatkan promo-promo hingga membuat produk kerja sama dengan e-commerce.

"Inisiatif seperti ini diharapkan bisa dimanfaatkan pelaku usaha yang belum memanfaatkan digitalisasi dalam pengembangan usahanya," imbuh Dwi.

Pemerintah pun mendukung kolaborasi antara platform e-commerce Shopee dan Sekolah Ekspor untuk mewujudkan 500.000 eksportir di tahun 2030 yang diluncurkan awal Maret lalu.

Tercatat sudah ada lebih dari 1.000 UMKM terdaftar dan siap menjalani pelatihan dan pendampingan bersama Shopee dan Sekolah Ekspor. Peserta terdaftar akan mengikuti berbagai kurikulum dengan menjalankan kelas mulai dari tingkat dasar (elementary level) sampai dengan tingkat perkembangan berkesinambungan (post recurrent level) dan ikut pendampingan pelatihan bersama Shopee dalam menerapkan literasi digital dan bersiap untuk mengekspor produk ke luar negeri.

Baca juga: Wujudkan 500.000 eksportir, Shopee kolaborasi dengan Sekolah Ekspor

Kepala Sekolah Ekspor Handito Joewono mengungkapkan saat ini jumlah eksportir terdaftar di Indonesia belum mencapai 15 ribu eksportir. Padahal, peluang ekspor begitu besar di tengah situasi pandemi seperti saat ini.

Oleh karena itu, menurut Handito, keberadaan platform e-commerce yang ada saat ini memiliki peran penting untuk mendorong terciptanya eksportir-eksportir baru.

"Sekarang selain ekspor dengan cara konvensional, kita sekarang bisa pakai cara kekinian. Jumlahnya tidak harus banyak. tidak harus langsung satu kontainer. Maka, marketplace punya peran yang sangat penting untuk bantu pelaku usaha masuk pasar global tadi," kata Ketua Komite Tetap Bidang Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia itu.

Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Shopee Indonesia Radityo Triatmojo mengatakan pihaknya berkomitmen untuk turut ikut serta dalam mendorong dan mendukung keberlangsungan UMKM di Indonesia.

"Dengan adanya sinergi ini, kami berfokus untuk dapat senantiasa mendorong UMKM untuk menjangkau cakupan global, serta meningkatkan eksistensi karya lokal berstandar global di mancanegara," katanya.

Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar