Saham Asia diprediksi fluktuatif setelah S&P 500 capai rekor tertinggi

id saham Asia,wall street,imbal hasil ,indeks dolar

Saham Asia diprediksi fluktuatif setelah S&P 500 capai rekor tertinggi

Dokumentasi - Seorang pejalan kaki yang memakai masker pelindung tercermin di layar yang menampilkan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS dan harga saham di broker, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Tokyo, Jepang 6 November 2020. ANTARA/REUTERS/Issei Kato.

New York (ANTARA) - Ekuitas Asia diprediksi bergerak fluktuatif pada Jumat, setelah saham-saham teknologi mengangkat S&P 500 di Wall Street ke rekor baru, bahkan ketika investor mempertimbangkan kenaikan tak terduga dalam jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru tunjangan pengangguran.

Laporan klaim pengangguran AS menunjukkan kenaikan mingguan kedua berturut-turut pada Kamis (8/4/2021), berlawanan dengan data ekonomi yang kuat dari penggajian dan lowongan kerja yang telah meningkatkan kepercayaan investor dalam pemulihan ekonomi yang cepat.

Data yang lebih lemah membantu imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun yang dijadikan acuan turun ke level terendah sejak 26 Maret, dan memicu permintaan untuk saham-saham dengan pertumbuhan tinggi di sektor teknologi, yang merupakan pemenang terbesar di S&P 500.

Nasdaq yang padat teknologi juga ditutup pada level tertinggi tujuh minggu pada Kamis (8/4/2021).

“Klaim pengangguran mengatur nada untuk pasar yang mungkin tidak sekuat yang diperkirakan orang dan kami masih jauh dari pemulihan,” kata Tim Ghriskey, kepala strategi investasi di Inverness Counsel di New York.

Indeks berjangka S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,03 persen pada awal perdagangan, sementara indeks berjangka Hang Seng Hong Kong kehilangan 0,17 persen, dan indeks berjangka Nikkei 225 Jepang naik 0,45 persen.

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell memberi isyarat pada Kamis (8/4/2021) bahwa bank sentral tidak akan mengurangi dukungannya untuk ekonomi AS, mengatakan pada acara Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa sementara pembukaan kembali ekonomi dapat mengakibatkan lonjakan harga sesaat, ia mengharapkan itu hanya sementara dan itu bukan merupakan inflasi.

Komentar Powell menegaskan kembali sikap akomodatif yang diuraikan dalam risalah pertemuan kebijakan Fed yang diterbitkan pada Rabu (7/4/2021).

Dibantu oleh penurunan lebih lanjut dalam imbal hasil, pedagang masuk ke saham-saham teknologi megacap seperti Apple Inc, Microsoft Corp dan Amazon.com Inc, yang merupakan pendorong utama S&P 500.

"Pergerakan di pasar didasarkan pada suku bunga," kata Thomas Hayes, ketua Great Hill Capital. "Selama suku bunga tetap dikompresi, ada tawaran untuk kekuatan laba berdurasi lama, yang diwujudkan dalam reli di bidang teknologi."

Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,17 persen menjadi 33,503,57 poin, S&P 500 naik 0,42 persen menjadi 4.097,17 poin dan Komposit Nasdaq bertambah 1,03 persen menjadi 13.829,31 poin.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS jatuh pada Kamis (8/4/2021), tertekan oleh komentar dovish Powell dan klaim pengangguran mingguan awal yang lebih lemah dari perkiraan.

Obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun yang dijadikan acuan, terakhir memberikan imbal hasil 1,624 persen, turun dari 1,654 persen pada Rabu sore (7/4/2021).

Dolar AS turun ke level terendah dua minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, mengikuti imbal hasil obligasi pemerintah menyusul kenaikan mengejutkan dalam permohonan tunjangan pengangguran AS.

Indeks dolar turun 0,379 persen, dengan euro naik 0,03 persen menjadi 1,1916 dolar.

Yen Jepang melemah 0,05 persen versus greenback pada 109,31 per dolar, sedangkan won Korea Selatan datar versus greenback pada 1,116,18 per dolar.

Harga emas melonjak, mencapai puncak satu bulan karena jaminan Fed bahwa ia akan mempertahankan kebijakan akomodatifnya yang membebani imbal hasil obligasi pemerintah dan greenback.

Harga spot emas naik 1,1 persen menjadi 1.756,36 dolar AS per ounce. Emas berjangka AS ditutup naik sekitar 1,0 persen pada 1.758,20 dolar AS.

Harga minyak mentah sedikit berubah karena reli Wall Street dan dolar yang lemah mengimbangi kekhawatiran atas lonjakan besar dalam stok bensin AS.

Minyak mentah AS turun 0,28 persen menjadi 59,60 dolar AS per barel, sementara Brent menetap di 63,20 dolar AS per barel, naik 0,06 persen.

Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar