Peneliti: Fly ash mampu turunkan emisi karbondioksida 44 persen

id abu terbang batu bara,fly ash,FABA,limbah PLTU batu bara

Peneliti: Fly ash mampu turunkan emisi karbondioksida 44 persen

Dosen jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Januarti Jaya Ekaputri memaparkan sejumlah manfaat fly ash dan bottom ash limbah PLTU Baru Bara untuk sektor konstruksi nasional. (ANTARA/Sugiharto purnama)

Jakarta (ANTARA) - Dosen jurusan teknik sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Jawa Timur, Januarti Jaya Ekaputri mengatakan bahwa pemanfaatan abu terbang limbah PLTU batu bara atau fly ash mampu menurunkan emisi karbondioksida hingga 44 persen.

"Ini adalah berita baik bagi lingkungan hidup. Kalau Indonesia dengan negara lain bisa bekerja sama,  itu bisa mengejar ketertinggalan dalam hal menurunkan emisi karbondioksida," kata Januarti Jaya Ekaputri dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Jumat.

Fly ash mampu menurunkan emisi karbondioksida karena bisa menekan angka penggunaan semen sebagai perekat dalam pembuatan beton untuk konstruksi bangunan.

Baca juga: Pemanfaatan FABA bisa menghemat anggaran infrastruktur Rp4,3 triliun

Data tahun 2020, lanjut dia, menunjukkan peningkatan produksi semen nasional menghasilkan emisi karbondioksida sebesar 20 juta ton atau setara 8 miliar meter kubik. Padahal total emisi normal karbondioksida beton seharusnya hanya 2,6 juta ton saja.

Material fly ash apabila dimanfaatkan untuk sektor konstruksi hanya menghasilkan sedikit karbondioksida karena tidak memerlukan proses yang rumit layaknya membuat semen.

Teknologi geopolimer yang anyar dalam konstruksi saat ini dapat memanfaatkan 100 persen fly ash, sehingga beton tidak memerlukan semen lagi.

Daya tahan beton fly ash juga diklaim lebih kuat ketimbang beton yang terbuat dari semen biasa karena beton fly ash tahan karat, tahan korosi, hingga tahan api.

Baca juga: Ragam diversifikasi pemanfaatan FABA bidang industri konstruksi

Pada 2016, Januarti pernah membawa hasil penelitian paving geopolimer ke Jepang mengikuti kompetisi inovasi level dunia, lalu mendapatkan medali emas sebagai salah satu inovasi terbaik dunia.

Tak hanya itu, fly ash yang memiliki kemampuan daya serap tinggi juga dapat menyaring racun yang terkandung di dalam tanah dan air.

"Saya punya kebun di rumah karena hobi gardening, maka saya buktikan bahwa fly ash bisa melakukan buffering pada pupuk. Bahkan bisa menyaring limbah B3," tutur perempuan yang akrab dipanggil Yani tersebut.

Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar