AMAN: Berantas radikalisme tak bisa hanya andalkan pendekatan keamanan

id Dwi Rubiyanti Kholifah,Paham radikal,Terorisme,Pemberdayaan perempuan

AMAN: Berantas radikalisme tak bisa hanya andalkan pendekatan keamanan

Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia Dwi Rubiyanti Kholifah. ANTARA/ Anita Permata Dewi.

Jakarta (ANTARA) - Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia Dwi Rubiyanti Kholifah mengatakan pendekatan keamanan tidak bisa serta merta membasmi kelompok teroris.

Menurut Ruby Kholifah, pendekatan lunak seperti melalui dialog diyakini lebih efektif dalam mencegah ekstrimisme.

"Pendekatan keamanan tidak serta merta bisa membasmi terorisme. Dengan kita melakukan pencegahan konflik dan mendorong lebih banyak dialog, maka ini sebenarnya berkontribusi kepada pencegahan ekstrimisme," kata Ruby dalam seminar daring bertajuk "Puasa untuk Counter Violence and Extremism", yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Musdah Mulia: Pemberdayaan perempuan cegah pengaruh paham radikal

Selain itu untuk mencegah perempuan menjadi pelaku aksi teror perlu dilakukan pemberdayaan perempuan sehingga mereka tidak mudah untuk dipengaruhi paham-paham radikal.

"Penguatan gender equality dan women empowerment itu berkontribusi cukup signifikan dalam pencegahan ekstrimisme," kata dia.

Hal-hal yang menyebabkan berkembangnya paham terorisme selama ini antara lain persoalan intoleransi, pemerintah yang dinilai gagal dalam menegakkan hak asasi manusia (HAM), persoalan politik, kesenjangan ekonomi dan marginalisasi sosial.

"(Sejumlah masalah itu) mendorong seseorang untuk kemudian masuk dan mengambil ideologi ekstrimisme sebagai bagian dari perjuangan," kata Ruby.

Senada dengan Ruby, aktivis perempuan Prof. Musdah Mulia mendorong pemberdayaan kaum perempuan agar tidak mudah terpengaruh oleh paham radikal yang menyesatkan dari kelompok tertentu.

Baca juga: Menangkal radikalisme dan terorisme dari pintu ke pintu

"Bagaimana kita memberdayakan kaum perempuan agar dia tidak mudah dicekoki dengan pemahaman-pemahaman apapun yang membuat dia kehilangan kemanusiaannya," kata Musdah Mulia.

Dia mengatakan dalam pemahaman kelompok radikal, orang-orang thogut memang harus dibunuh dan itu adalah bagian ibadah kelompok radikal.

Musdah menjelaskan hingga saat ini masih ada segelintir pengajian yang mengajarkan pemahaman keagamaan yang radikal kepada para jamaahnya termasuk jamaah perempuan.

Doktrin yang diajarkan oleh kelompok ini cenderung menghakimi orang lain yang berbeda pemahaman dengan mereka.

Baca juga: KPPPA berdayakan PATBM di 4 provinsi cegah paham radikal
Baca juga: Simpul pertahanan Sultra cegah paham radikal dan terorisme
Baca juga: Pengamat: Perbanyak materi agama pada kurikulum tangkal paham radikal

Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar