Kemenag: Pendidikan dianggap gagal jika SDM tuna moral

id Hari pendidikan nasional,Hardiknas,Kemenag

Kemenag: Pendidikan dianggap gagal jika SDM tuna moral

Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag Muhammad Fuad Nasar. (ANTARA/Asep Firmansyah)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan pendidikan akan dianggap gagal jika sumber daya manusia yang dihasilkan hanya sekedar pintar dan menguasai teknologi, tetapi tuna moral atau tak memiliki kepedulian dan empati terhadap sesama.

"Pendidikan dianggap gagal jika keluaran (ouput) yang dihasilkan ialah sumber daya manusia yang sekadar pintar dan menguasai teknologi, tetapi tuna moral," ujar Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag Muhammad Fuad Nasar di Jakarta, Ahad.

Pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Fuad menyatakan bahwa dalam pandangan Islam tujuan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari tujuan hidup manusia sebagai khalifah di bumi.

Maka dari itu, pendidikan tak hanya menjangkau sisi intelektual manusia tetapi harus menyentuh seutuhnya dimensi jasmani, rohani, akal, dan akhlak dalam diri seseorang.

Baca juga: Mendikbudristek: Pandemi perlihatkan kekurangan dunia pendidikan

Baca juga: Presiden: Pendidikan harus memerdekakan manusia


"Pendidikan berkaitan dengan penanaman watak, karakter dan penghayatan sistem nilai, bukan sekadar transmisi pengetahuan dan keterampilan semata," kata dia.

Ia menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional tidak boleh mengabaikan Pendidikan Agama dalam peta jalan maupun standar kurikulumnya.

Sistem pendidikan nasional dibangun di atas landasan ideologi Pancasila dan jalan hidup sebagai bangsa religius. Dengan demikian, misi pendidikan untuk melahirkan manusia dan warga negara merdeka dengan tanggungjawab kemanusiaan yang disandangnya harus terjaga selamanya.

Ia mengajak seluruh pihak merenungkan pesan bapak bangsa Mohammad Hatta pada Hari Alumni I Universitas Indonesia, 11 Juni 1957 berjudul Tanggung Jawab Moril Kaum Inteligensia.

Bung Hatta, kata dia, mengatakan pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar.

"Kurang kecerdasan dapat diisi, kurang karakter sukar memenuhinya, seperti ternyata dengan berbagai bukti di dalam sejarah. Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, akan tetapi manusia yang berkarakter tidak diperoleh dengan begitu saja," kata Fuad.*

Baca juga: Ketua KPK tekankan pentingnya pendidikan bangun integritas bangsa

Baca juga: Mendikbudristek Nadiem paparkan empat prioritas peningkatan pendidikan

Pewarta : Asep Firmansyah
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar