Pimpinan Komisi IX DPR cek kesiapan skenario gelombang kedua COVID-19

id Pdi, Charles Honoris, RSD, wisma atlet, COVID-19

Pimpinan Komisi IX DPR cek kesiapan skenario gelombang kedua COVID-19

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, meninjau kesiapan RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu. ANTARA/HO-DPR

Jakarta (ANTARA) -
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, meninjau kesiapan RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta Pusat, dalam rangka menghadapi skenario terburuk gelombang kedua penyebaran virus Covid-19 dan segala bentuk variannya.
 
Di Jakarta, Rabu, dia menyebutkan lonjakan penularan Covid-19 atau yang biasa disebut gelombang kedua sudah mulai terjadi di beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, dan Singapura.

India adalah contoh terburuk di dunia tentang gelombang kedua Covid-19 karena mereka terlena dan terlanjur gembira atas keberhasilan menekan kasus Covid-19 pada gelombang pertama. Salah satu pemicu lonjakan dahsyat itu adalah festival keagamaan yang menyebabkan kerumunan massa dalam jumlah sangat masif. 
 
“Saya ingin hadir di tengah pahlawan-pahlawan kita di sini, para tenaga kesehatan yang sedang berjuang membawa Indonesia keluar dari pandemi, untuk mengecek kondisi nakes dan kesiapan fasilitas kesehatan rumah sakit darurat ini dalam menghadapi potensi kenaikan penyebaran Covid-19,” kata dia.

Baca juga: IDI ingatkan gelombang kedua lonjakan kasus COVID di Aceh
 
Ia mengatakan itu di sela-sela kunjungan sekaligus memberi bantuan untuk para tenaga kesehatan di Pusat Media Massa RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran. Ia diterima Kepala Pusat Kesehatan TNI, Mayor Jenderal Dr drg Tugas Ratmono, dan Komandan Lapangan RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Letnan Kolonel Marinir drg Muhammad Arifin.
 
Soal potensi kenaikan penyebaran Covir-19, Honoris menjelaskan, bisa dilihat dari prakondisi yang terjadi di lapangan, di antaranya masyarakat yang sudah mulai mengabaikan protokol kesehatan seperti di pusat-pusat perbelanjaan dan mobilitas warga yang tinggi menjelang libur Lebaran.

Baca juga: Gelombang kedua COVID-19 di India yang mutlak dihindari (Indonesia)
 
“Kita tidak ingin angka penularan naik. Tapi prakondisi kenaikan angka penularan itu kita lihat sudah terpenuhi. Pengabaian prokes dan pergerakan orang dalam jumlah besar, bahkan menurut data Kementerian Perhubungan, 27 juta orang akan tetap mudik meski dilarang,” ucap dia.
 
Oleh karena itu dia mengimbau agar ada konsistensi dalam penerapan kebijakan larangan mudik. Terlebih di sejumlah provinsi seperti Sumut, Riau dan Sumatera Selatan angka keterisian tempat tidur rumah sakit (bed occupancy rate) sudah tinggi di atas 60 persen.
 
“Oleh karena itu harus mempersiapkan infrastruktur dan perangkat dalam menghadapi skenario terburuk dalam hal peningkatan angka penularan Covid-19 di Indonesia. Seperti peningkatan jumlah tempat tidur dan ICU Covid-19, suplai oksigen, dan sebagainya,” ucapnya.

Baca juga: Batam hadapi gelombang ketiga COVID-19
 
Selain itu, dia mengatakan mesti ada pemberlakuan pengetatan pintu-pintu masuk di perbatasan, dan juga pengetatan disiplin protokol kesehatan di tengah masyarakat.
 
Ratmono mengatakan kesiapan pihaknya dalam mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19. Meski angka keterisian tempat tidur per hari ini masih rendah yakni 22 persen mereka menyatakan siap dalam menghadapi skenario terburuk.
 
“Ibarat tentara kalau berperang, kita ini udah posisi siap menembak,” kata dia.

Baca juga: Lonjakan kasus COVID-19 India "alarm" untuk Indonesia

Pewarta : Boyke Ledy Watra
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar