Dokter paru: Prokes dan jangan mudik untuk tekan COVID-19

id Dokter paru, PDPI, enam rekomendasi, COVID-19,jangan mudik,larangan mudik,pembatasan mudik,mudik,pulang kampung,tiket mudik,penyakatan jalan,jalan mud

Dokter paru: Prokes dan jangan mudik untuk tekan COVID-19

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto dalam jumpa pers secara virtual, Rabu (5/5/2021). ANTARA/Andi Firdaus

Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) merekomendasikan enam upaya masyarakat untuk berkontribusi mengantisipasi gelombang kedua penularan COVID-19 antara lain melaksanakan protokol kesehatan dan jangan mudik.

"Kami mengajak segenap warga negara Indonesia untuk mengedepankan kepentingan kemanusiaan dan ikut berkontribusi menekan angka penularan," kata Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto dalam jumpa pers secara virtual, Rabu.

Menurut Agus, masyarakat perlu melaksanakan protokol kesehatan 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan secara teratur, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi.

Menurut Agus, kasus baru COVID-19 di Indonesia bisa kembali naik dan bisa terus melonjak apabila masyarakat lengah dan tidak konsisten menjalankan protokol kesehatan.

"Virus bermutasi untuk bisa bertahan aktif. Oleh sebab itu, kita sebagai makhluk yang lebih sempurna harus juga berubah agar bisa bertahan hidup," katanya.

Baca juga: Menteri Kesehatan: Tiga varian virus corona sudah masuk ke Indonesia
Baca juga: Ahli berharap mutasi virus tidak mengarah ke yang lebih ganas


Selain itu menurut Agus, masyarakat harus mentaati larangan mudik dan mengganti dengan  melakukan silaturahmi Idul Fitri secara virtual atau daring.

Agus mengatakan pemerintah telah melarang aktivitas mudik yang berlaku mulai 6 hingga 17 Mei 2021 dalam rangka mengendalikan angka penularan COVID-19.

Pada Idul Fitri 1441 Hijriah, kata Agus, ada tren kenaikan kasus 14 hari setelah setelah perayaan. Situasi tersebut menunjukkan penyebaran COVID-19 yang semakin luas dan tidak terkontrol.

Empat rekomendasi lainnya yaitu pertama, menjalani imunisasi atau vaksinasi COVID-19. Kedua tetap mematuhi protokol kesehatan 5M walaupun sudah divaksin.

"Pelajaran yang mahal sudah kita dapatkan dari India sebagai salah satu negara dengan testing, tracing, dan treatment (3T) terbaik di dunia. Akan tetapi, akibat kelalaian dengan adanya acara-acara kumpul masa sejak bulan Maret hingga April lalu terjadi tsunami COVID-19 di sana," katanya.

Baca juga: Ahli: Kemampuan virus hindari antibodi berdampak pada vaksinasi COVID
Baca juga: Guru Besar FKUI ungkap dua kelompok besar mutasi virus di India


Ketiga , diimbau kepada setiap individu untuk mengambil peran pencegahan dan saling mengingatkan untuk mengatasi pandemi COVID-19.

"Pada dua pekan ke belakang, dengan semakin kentalnya suasana Ramadhan, semakin banyak pula kegiatan-kegiatan kumpul massa seperti buka puasa bersama, berdesak-desakan di pusat perbelanjaan, hingga mudik ke kampung halaman yang sayangnya dilakukan tanpa kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang baik," katanya.

Keempat yaitu, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dengan besarnya potensi gelombang kedua COVID-19 di Indonesia.

"Seluruh masyarakat tidak boleh lengah hanya karena jumlah kasus baru sempat turun, atau karena sudah divaksin. Karena jika kita lengah sedikit saja, ancaman gelombang kedua dari pandemi COVID-19 di Indonesia dapat menjadi kenyataan," katanya.

Baca juga: Pusat perbelanjaan di Yogyakarta harus ketatkan pembatasan pengunjung
Baca juga: 350 personel gabungan jaga pusat perbelanjaan di Jakarta Barat

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar