BPOLBF luncurkan 30 desa wisata tematik NTT

id BPOLBF, BOPLBF, NTT, wisata, labuan bajo

BPOLBF luncurkan 30 desa wisata tematik NTT

Direktur Utama BPOLBF Shana Fatina (Kiri) berbincang-bincang dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dalam acara BBTF di Bali. ANTARA/hO-bpolbf.

Kupang (ANTARA) - Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) meluncurkan 30 desa wisata tematik Nusa Tenggara Timur dalam kegiatan Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) ke - 7 di Nusa Dua, Badung, Bali,  8 - 12 Juni 2021 lalu, kata Direktur Utama BPOLBF Shana Fatina.

"Peluncuran 30 desa wisata tematik yang sudah kami lakukan pada 8-12 Juni itu dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTT," katanya saat dihubungi dari Kupang, Minggu, berkaitan dengan upaya BPOLBF dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTT di tengah pandemi COVID-19.

Ia menjelaskan bahwa BBTF merupakan event tahunan yang merupakan salah satu ajang tolok ukur acara dan tujuan perjalanan dan pariwisata di Indonesia. BBTF rutin diselenggarakan sejak  2014 .

Baca juga: BPOLBF: Jumlah wisatawan turun 83 persen pada 2020

Namun sempat terhenti karena pandemi Covid-19. Perhelatan BBTF sempat tertunda setahun dan Perhelatan BBTF ke - 7 kali ini dilaksanakan secara hybrid (offline dan daring) pada 8 - 12 Juni 2021 di Bali International Convention Center (BICC) - Nusa Dua, Bali.

"Perhelatan ini adalah untuk memajukan industri pariwisata melalui sesi bisnis serta promosi langsung dan menjadi praktik terbaik dalam manajemen MICE dan leisure. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mengoptimalkan pergerakan wisatawan untuk melakukan perjalanan," tambah dia.

Selain menciptakan peluang bisnis dalam sektor pariwisata, penyelenggaraan BBTF ini juga mempertemukan seller dan buyers dalam upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia. Kegiatan ini difokuskan pada pasar Indonesia dan Asia Pasifik yang melibatkan berbagai Biro Perjalanan (TA/TO) di Bali dan wilayah lainnya dengan buyer dalam forum business to business.

Shana menambahkan bahwa 30 desa wisata tematik terintegrasi dengan Labuan Bajo Flores yang meliputi pulau Flores, Lembata, Alor, dan Cagar Biosfer Komodo.

Baca juga: Menparekraf: Kebangkitan pariwisata dimulai dari desa wisata

"Travel pattern desa wisata tematik ini menambah variasi produk pariwisata dan ekonomi kreatif yang semakin memperkuat kekhasan karakter destinasi Labuan Bajo Flores," tambah Shana.

Ia mengatakan bahwa momentum BBFT merupakan momen memperkenalkan potensi wisata di NTT, apalagi pada BBTF
2021 ini mempertemukan sekitar 125 penjual produk pariwisata dari Indonesia dan lebih dari 60 pembeli dari 20 negara, termasuk Indonesia.

Ke - 5 seller dari Labuan Bajo yang turut ambil bagian dalam perhelatan BBTF kali ini, antara lain: Cari Organizer, PT.Getrudis, PT. Intimesea, PT. Komodo Panorama Indah, dan PT. Gong Komodo Tour.

"Potensi destinasi pariwisata berkelanjutan NTT yang digelar di BBTF 2021 mendapat perhatian khusus bukan hanya buyer internasional namun juga pasar domestik. Yang penting dikelola secara serius, kami yakin potensi keanekaragaman pariwisata Labuan Bajo Flores bisa makin menarik perhatian wisatawan untuk datang berkunjung dan menambah length of stay mereka," jelas Shana.

Sementara itu, Direktur Pemasaran BPOLBF, Raisa Lestari Niloperbowo dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, event BBTF ke - 7 yang mengusung tema *Exploring Sustainable & Wellness Tourism* tersebut sekaligus menjadi salah satu momentum terbaik untuk mengukuhkan Labuan Bajo Flores sebagai salah satu elemen potensial bagi kebangkitan perekonomian nasional melalui sektor pariwisata.

"Labuan Bajo dengan ikon komodonya sampai hari ini tetap menjadi brand utama pariwisata Labuan Bajo yang sekaligus akan membawa persebaran wisatawan ke berbagai destinasi wisata yang ada di Flores dan sekitarnya. Dengan menyiapkan produk-produk wisata dan destinasi yang dikelola dengan baik dan penerapan protokol kesehatan secara disiplin kami harapkan bisa mendorong pemulihan ekonomi melalui sektor pariwisata," tegas Raisa.

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar