Brussels (ANTARA) - Para pemimpin negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada Senin berharap untuk membuka babak baru dalam hubungan trans-Atlantik pada konferensi tingkat tinggi (KTT) "penting" dengan Presiden Amerika Serikat Joe Biden pascapemerintahan Donald Trump.

Para anggota NATO sepakat untuk fokus pada penanganan perubahan iklim untuk pertama kalinya serta menghadapi kebangkitan militer China.

Digambarkan sebagai "momen penting" oleh Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg, KTT itu bertujuan untuk membalik halaman pada empat tahun hubungan yang menegangkan dengan pendahulu Biden, Donald Trump, yang mengguncang kepercayaan pada aliansi Barat dengan menyebutnya "usang".

Untuk pertemuan 30 negara NATO di Brussels, para diplomat mengatakan tidak ada yang jauh lebih penting daripada upaya aliansi negara-negara bersenjata nuklir yang didirikan pada 1949 itu untuk membantu menghadapi berbagai ancaman --dari cuaca ekstrem yang dapat memperburuk konflik hingga upaya mengatasi ancaman Rusia yang melemahkan demokrasi Barat melalui serangan rahasia.

"NATO berutang kepada miliaran orang yang kita jaga keamanannya setiap hari untuk terus beradaptasi dan berevolusi guna menghadapi tantangan baru dan menghadapi ancaman yang muncul," kata Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam pernyataan yang telah dipersiapkan pada malam KTT di Brussels.

Sebelumnya, Johnson menjamu Biden dan para pemimpin negara kelompok tujuh (G7) lainnya di Cornwall, Inggris.

Upaya Rusia untuk memecah belah Barat kemungkinan akan dilakukan melalui diskusi, kata para diplomat, menjelang pertemuan antara Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (15/6) di Jenewa.

Sejak pencaplokan Krimea oleh Rusia pada 2014, NATO telah memodernisasi pertahanannya tetapi tetap rentan terhadap serangan dunia maya dan disinformasi, meskipun Moskow menyangkal tuduhan tentang segala upaya untuk mengacaukan para sekutu NATO.

"Ancaman dunia maya dapat muncul kapan saja selama krisis dan memicu kesalahpahaman dan sinyal yang tidak diinginkan ... yang dapat memicu perang," kata kelompok peneliti Jaringan Kepemimpinan Eropa (ELN) dalam sebuah makalah yang dirilis untuk KTT.

Namun, para diplomat negara NATO mengatakan bahwa hal yang terpenting di benak para pemimpin adalah kebutuhan untuk mendengar Biden menyampaikan kembali komitmen Amerika Serikat untuk pertahanan kolektif NATO setelah era Trump.

Retorika konfrontatif Trump terhadap negara sekutu AS dari 2017 hingga 2019 di KTT NATO menciptakan kesan krisis, kata para utusan negara anggota NATO.

Kehadiran militer dan ekonomi China yang berkembang di Atlantik, termasuk latihan militer bersama dengan Rusia, akan mendorong tanggapan yang kuat dari para pemimpin NATO. Sebuah janji untuk membuat militer NATO netral karbon pada 2050 juga diharapkan disepakati dalam pertemuan puncak para pemimpin negara NATO..

Sebelumnya, para pemimpin G7 pada Minggu (13/6) sepakat untuk meningkatkan kontribusi mereka untuk memenuhi janji pengeluaran sebesar 100 miliar dolar AS per tahun oleh negara-negara kaya untuk membantu negara-negara miskin mengurangi emisi karbon dan mengatasi pemanasan global.

Sumber: Reuters

Baca juga: G7 terpecah tentang realokasi dana IMF ke negara-negara terkena COVID

Baca juga: Biden tegaskan dukungan untuk Olimpiade Tokyo

Baca juga: Turki tawarkan jaga bandara Afghanistan setelah NATO tarik pasukan


 

Pengarahan pertama Gedung Putih dalam pemerintahan Biden

Penerjemah: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Tia Mutiasari
Copyright © ANTARA 2021