Pengamat: Baliho Puan karena aspirasi "akar rumput" untuk 2024

id baliho puan maharani,pemilihan presiden 2024,pengamat politik uinsa

Pengamat: Baliho Puan karena aspirasi "akar rumput" untuk 2024

Ketua DPR RI Puan Maharani. ANTARA/HO-DPR RI

Surabaya (ANTARA) - Pengamat Politik asal Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Andri Arianto, menilai maraknya baliho bergambar Ketua DPR RI Puan Maharani karena ada aspirasi di tingkat "akar rumput" untuk Pemilihan Presiden 2024.

"Kami lihat ini dorongan dari masyarakat agar Puan ikut maju dalam kontestasi pergantian kepemimpinan Nasional pada 2024," ujarnya ketika dihubungi di Surabaya, Kamis malam.

Baliho-baliho yang terpasang berukuran besar bergambar dua foto Puan Maharani berbaju merah mengepalkan tangan kanan dan berbaju hitam sedang bicara di podium, serta terdapat kalimat pesan dari presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno.

Kalimat pesan tersebut berbunyi "barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam".

Kendati terbilang masih lama, baliho bergambar Puan juga sudah sejalan dengan pernyataan elite PDI Perjuangan yang berniat mengusung sebagai kandidat di pilpres mendatang.

"Memang saya melihat, di banyak daerah muncul kelompok relawan yang mendukung Puan Maharani. Ada juga baliho-baliho-nya. Artinya, ada dorongan dari bawah agar Puan ikut maju, meski secara pribadi belum menyatakan akan mencalonkan diri," ucap-nya.

Baca juga: Pengamat: Baliho Puan Maharani pertanda menuju Pilpres 2024

Puan Maharani juga dinilainya mempunyai pengalaman cukup memadai, seperti pernah menjadi anggota DPR RI, menteri, hingga saat ini menjabat ketua DPR RI.

"Itu menjadi modal yang cukup signifikan untuk terlibat dalam kepemimpinan Nasional," kata dia.

Sebagai ketua DPR RI, kata Andri, Puan ikut mengawal program-program Presiden Joko Widodo yang bisa dibilang cukup memuaskan publik selama kepemimpinan-nya.

Demikian pula saat menjadi Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada 2014-2019, Puan mengeksekusi tidak sedikit program Presiden sesuai bidang tugas di kementerian.

Yang perlu diberi catatan, lanjut dia, Puan memang nisbi tidak eksplosif di media, baik itu media konvensional maupun media sosial, padahal sebagai politikus seharusnya "gila media", termasuk media sosial.

"Saya tidak tahu apakah memang Mbak Puan tipe orang yang bekerja tanpa ingin banyak gimmick di media atau bagaimana, tapi semestinya komunikasi publik itu diperlukan karena bagaimana pun ini medan politik itu politikus butuh popularitas," tutur-nya.

"Ke depan diperlukan strategi komunikasi politik yang lebih komprehensif agar pengenalan Puan ke masyarakat semakin tinggi," ujarnya menambahkan.

Pewarta : Fiqih Arfani
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar