Peneliti jelaskan dampak rusaknya mangrove untuk emisi karbon

id restorasi mangrove,bakau,YKAN

Peneliti jelaskan dampak rusaknya mangrove untuk emisi karbon

Tangkapan layar dari peneliti karbon dan perubahan iklim YKAN Nisa Novita (panel kiri bawah) dalam diskusi virtual, Jakarta, Jumat (18/6/2021). ANTARA/Prisca Triferna

Jakarta (ANTARA) - Peneliti karbon dan perubahan iklim Nisa Novita menjelaskan bahwa ekosistem mangrove atau bakau memiliki kemampuan luar biasa untuk menyimpan karbon sehingga perusakannya akan berdampak pada upaya mitigasi perubahan iklim.

"Karbon yang ada di hutan saat ini adalah hasil manifestasi dari ribuan tahun yang sudah tersimpan dan kalau kita ubah jadi tambak atau perkebunan kepala sawit hanya dalam hitungan tahun itu akan melepas karbon dengan begitu cepatnya," kata Nisa dalam diskusi virtual Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dipantau dari Jakarta, Jumat.

Hal itu karena ekosistem bakau memiliki kemampuan untuk menyerap karbon tidak hanya lewat tutupan vegetasi yang ada di atasnya, tapi juga tanah yang ada di bawahnya.

Mengenai faktor yang mempengaruhi kerusakannya, peneliti karbon di YKAN itu mengatakan akuakultur atau budi daya perairan seperti alih fungsi penggunaannya menjadi tambak menjadi salah satu faktor terjadinya degradasi ekosistem mangrove. Selain itu terjadi juga alih fungsi lain, seperti untuk perkebunan sawit atau pembangunan lain.

Baca juga: BRGM: Masyarakat penerima manfaat langsung rehabilitasi mangrove

Baca juga: Rehabilitasi mangrove, KLHK dapat tambahan anggaran Rp1,52 triliun


Indonesia sendiri memiliki sekitar 3,31 juta hektare (ha) lahan mangrove, menurut data pada 2020. Namun, sekitar 1,82 juta ha di antaranya berada dalam kondisi yang rusak.

Karena itu penting dilakukan upaya restorasi, dengan YKAN juga ikut terlibat dalam upaya restorasi mangrove termasuk di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke di Jakarta.

Pemerintah sendiri menargetkan akan melakukan rehabilitasi mangrove di lahan seluar 600 ribu ha di sembilan provinsi lewat koordinasi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

Namun, dia mengingatkan selain restorasi usaha untuk menjaga harus tetap dilakukan untuk menjamin kelestarian mangrove.

"Kalau kita benar-benar ingin mencegah emisi gas rumah kaca intinya adalah selain restorasi, yang lebih pentingnya adalah melindungi," tegasnya.

Baca juga: Berjibaku merestorasi mangrove di Suaka Margasatwa Muara Angke

Baca juga: BRGM: Generasi muda mitra penting restorasi gambut dan mangrove

 

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar