Pemkot Surabaya sediakan pekerjaan disabilitas sesuai bakatnya

id pemkot surabaya,disabilitas,lapangan pekerjaan,askebilitas,wawali surabaya

Pemkot Surabaya sediakan pekerjaan disabilitas sesuai bakatnya

Seoarang anak penyandang tunanetra sedang mengikuti kegiatan Public Movement bertemakan "This Is Ability Not Disability" yang digelar Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta di Plaza Surabaya pada Minggu (20/6/202).  (FOTO ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya)

Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Kota Surabaya berupaya menyediakan aksesibilitas bagi para penyandang disabilitas, salah satu dengan menyediakan lapangan kerja di instansi pemerintahan sesuai dengan bakat dan keahliannya.

Wakil Wali Kota Surabaya Armuji di Surabaya, Senin, mengatakan, contoh konkret yang sudah dilakukan Pemkot Surabaya saat ini adalah merekrut disabilitas baik dari tunarungu, tunawicara, maupun tunanetra untuk bisa bekerja bersama teman-teman normal lainnya.

"Itu adalah bentuk kepedulian pemkot terhadap disabilitas," katanya.

Meski demikian, Armuji menyatakan, bahwa dukungan dari berbagai pihak juga sangat dibutuhkan dalam upaya pemenuhan pelayanan bagi penyandang tunanetra. Oleh karena, ia juga mendorong stakeholder lain agar turut serta dalam mewujudkan upaya tersebut.

Baca juga: Yayasan Bersih sasar vaksinasi COVID-19 untuk disabilitas di Surabaya

Baca juga: Memvaksin ODGJ dan disabilitas, ragam kisah unik nakes di Surabaya


"Mungkin dari universitas lainnya juga bisa memberikan pelatihan-pelatihan khusus dengan kemampuan yang mereka miliki," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, Pemkot Surabaya terus mendorong dan mendukung aksesibilitas pelayanan bagi penyandang disabilitas yang tidak hanya terkait masalah pendidikan vokasi, namun ketersediaan lapangan kerja juga menjadi salah satu fokus utama.

Selain itu, Armuji mengapresiasi kegiatan Public Movement bertemakan "This Is Ability Not Disability" yang digelar Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta di Plaza Surabaya pada Minggu (20/6).

Public Movement yang diikuti sekitar 13 anak penyandang tunanetra itu adalah pendidikan ekstra, dimana anak-anak yang ingin belajar menggambar atau melukis, mereka diajari dengan cara (identifikasi) bau dari warna itu sendiri.

"Maka mereka juga bisa mengekspresikan di dalam kanvas dimana akan membentuk seperti apa yang diinginkan," katanya.

Ia menilai asksesibilitas seperti itu tentu akan semakin mendukung anak-anak penyandang tunanetra untuk dapat berkarya meski dengan keterbatasan. 

Baca juga: USAID-Pemkot Surabaya perkuat ketenagakerjaan penyandang disabilitas

Baca juga: Kisah Karjono, penyandang disabilitas kembangkan koperasi saat pandemi

 

Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar