Penggebuk drum Tyo Nugros: Alam memengaruhi dalam bermusik

id Mangrove,Musisi,Cinta alam,drummer,Tyo Nugros,BKSDA DKI Jakarta

Penggebuk drum Tyo Nugros: Alam memengaruhi dalam bermusik

Tangkapan layar musisi Tyo Nugros dalam webinar bertema "Aku, Mangrove, dan Masa Depannya" yang dipantau secara daring di Jakarta, Jumat (30/7/2021). ANTARA/Zubi Mahrofi.

Jakarta (ANTARA) - Musisi Tyo Nugros, yang tergabung dalam band WOLFTANK, di mana sebelumnya dikenal sebagai penggebuk drum dari kelompok musik Dewa 19  mengatakan bahwa alam mempengaruhi dalam bermusik.

"Alam sangat berhubungan dengan musik. Lingkungan yang sehat dan bersih otomatis dapat mempengaruhi dalam bermusik," katanya dalam webinar bertema "Aku, Mangrove, dan Masa Depannya" yang dipantau secara daring di Jakarta, Jumat.

Ia mengakui bahwa dirinya cenderung suka dengan lirik bernuansa alam.

Karena itu, Tyo Nugros -- panggilan akrab pemilik nama Setyo Nugroho -- yang pernah aktif kuliah dan tercatat sebagai siswa di Percussion Institute of Technology (PIT) dan Musicians Institute (MI) Hollywood Amerika Serikat (AS) itu mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga alam sekitar, termasuk melindungi mangrove.

Dalam kesempatan sama, vokalis band WOLFTANK, Ariyo Wahab mengatakan sudah seharusnya manusia untuk menjaga alam, termasuk menjaga ekosistem mangrove.

"Mereka (mangrove) butuh penanganan agar berfungsi dengan baik agar masyarakat terhindar dari bencana," katanya.

Band yang beranggotakan Ariyo Wahab, Tyo Nugros, Kin Aulia, dan Mochamad Noerwana (Noey) itu pun akan membuat lagu tentang alam. Saat ini, lagu itu masih dalam proses penggarapan.

Ariyo mengaku bukan hal mudah untuk membuat sebuah lagu yang mengangkat tentang alam. "Kami harus menyelaminya, banyak sekali yang harus kami lakukan untuk menjadi sebuah lagu," katanya.

Baca juga: GIGI-Tasya Kamila duta lingkungan penanaman trembesi

Baca juga: Band Kotak didaulat jadi duta lingkungan


Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, Abdul Kodir mengatakan luasan mangrove di wilayah DKI Jakarta sebesar 476 hektare.

"Kondisi ini cukup memprihatinkan, inilah yang menjadi PR (pekerjaan rumah) dan tantangan kita bersama," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa kondisi hutan mangrove di wilayah Jakarta terus mendapatkan tekanan seiring meluasnya dampak pembangunan. Situasi itu, membuat luasan hutan mangrove tidak bertambah.

Menurut dia keluarga memiliki peran penting untuk memberikan kesadaran betapa pentingnya untuk mencintai lingkungan.

"Penyadaran tentang arti penting cinta lingkungan, termasuk mangrove harus dilakukan sejak dini, dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga. Keluarga mempunyai peranan yang penting untuk membentuk pondasi cinta lingkungan," demikian Abdul Kodir.

Baca juga: Kepulauan Seribu kampanyekan pelestarian lingkungan lewat musik

Baca juga: Stroom "sengat" penggemar dengan 18 lagu

Baca juga: Jazz Hijau, promosi kepedulian lingkungan lewat musik


Baca juga: Wali Band tanam trembesi di Madura

Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar