Saham China berakhir jatuh, tertekan data lemah dan kebangkitan virus

id saham China,indeks Shanghai,indeks CSI300,beijing

Saham China berakhir jatuh, tertekan data lemah dan kebangkitan virus

Ilustrasi: Sejumlah investor memantau pergerakan indeks harga saham melalui rumah pialang, di Shanghai, China. ANTARA/REUTERS/Aly Song/aa.

Shanghai (ANTARA) - Saham-saham China berakhir lebih rendah pada perdagangan Rabu, karena data pabrik dan aktivitas ritel yang lemah membebani sentimen, sementara wabah baru COVID-19 juga meningkatkan kekhawatiran atas pemulihan ekonomi negara tersebut.

Indeks Komposit Shanghai terkikis 0,17 persen atau 6,38 poin menjadi menetap di 3.656,22 poin, melanjutkan penurunan tajam 1,42 persen sehari sebelumnya. Indeks saham-saham unggulan CSI300 merosot 1,01 persen atau 49,84 poin menjadi ditutup di 4.867,32 poin.

Sektor pabrik dan ritel China tersendat pada Agustus, dengan output dan pertumbuhan penjualan mencapai posisi terendah satu tahun karena wabah baru Virus Corona dan gangguan pasokan mengancam pemulihan ekonomi negara itu.

"Kami berharap Beijing menggunakan langkah-langkah pelonggaran yang lebih umum untuk mengimbangi sikap pengetatannya pada sektor properti dan emisi karbon," kata analis Nomura dalam sebuah catatan.

Sub-indeks kebutuhan pokok konsumen dan sub-indeks pariwisata turun sekitar 2,0 persen, karena China memerangi wabah virus corona terbaru di Provinsi Fujian Tenggara, dan beberapa kota telah mengeluarkan peringatan perjalanan menjelang hari libur besar.

Baca juga: Saham China berakhir melemah terseret sektor properti dan keuangan

"Pemulihan penjualan ritel kemungkinan akan terus lamban karena wabah virus baru-baru ini dapat mengurangi kepercayaan konsumen dan keinginan orang untuk bepergian," kata HSBC dalam sebuah catatan.

Sektor real estat dan bank masing-masing turun 2,5 persen dan 0,9 persen, karena masalah yang terkait dengan China Evergrande Group memicu kekhawatiran risiko yang lebih luas terhadap pasar real estat dan sistem keuangan negara itu.

“Kami pikir Beijing bersedia menanggung rasa sakit jangka pendek untuk mencari keuntungan jangka panjang, dan kali ini Beijing tidak akan dengan mudah membatalkan pembatasan propertinya,” kata Nomura.

Sementara itu, sub-indeks yang melacak saham-saham energi menguat 1,5 persen setelah harga minyak naik.

Baca juga: Saham Jepang mundur dari tertinggi 3 dekade, Nikkei jatuh 0,52 persen

Baca juga: Saham Australia ditutup merosot, Indeks ASX 200 turun 0,27 persen

Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar