BMKG laporkan 20 titik panas kembali muncul di wilayah NTT

id NTT,BMKG,Stasiun Meteorologi El Tari Kupang,titik panas

BMKG laporkan 20 titik panas kembali muncul di wilayah NTT

Sebaran titik panas yang ditandai dengan titik berwarna merah yang muncul di wilayah NTT, pada Selasa (21/9/2021). ANTARA/HO-Stasiun Meteorologi El Tari Kupang

Kupang (ANTARA) - Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebanyak 20 titik panas kembali muncul muncul secara menyebar pada tiga kabupaten wilayah Nusa Tenggara Timur.

"Sebaran titik panas yang kembali muncul di wilayah NTT terdeteksi muncul pada Selasa (21/9) hari ini pukul 01.00-18.00 WITA dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen," kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang BMKG Agung Sudiono Abadi di Kupang, Selasa.

Ia menyebutkan sebaran titik panas yang muncul lebih banyak berada di Kabupaten Sumba Timur yaitu Kecamatan Paberiwai empat titik, Kecamatan Pandawai, Rindiumalulu, Tabudung masing-masing tiga titik, Kecamatan Leharu dua titik, dan Kecamatan Lewa satu titik.

Selain itu titik panas juga muncul di Kabupaten Kupang tersebar di Kecamatan Amfoang Timur dua titik dan Kecamatan Takari satu titik, serta satu titik panas di Kecamatan Paga Kabupaten Sikka.

Baca juga: ASAP Digital, upaya Polri percepat penanggulangan karhutla
Baca juga: Mendagri terbitkan SE terkait anggaran penanganan Karhutla daerah


Agung Sudiono menjelaskan sebaran titik panas terdeteksi berdasarkan analisis peta dengan pantauan Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP dan NOAA20 oleh Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).

Satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dalam luasan 1 kilometer persegi. Pada suatu lokasi di permukaan bumi akan diobservasi 2-4 kali per hari.

Namun demikian, pada wilayah yang tertutup awan, maka titik panas tidak dapat terdeteksi, katanya.

Citra satelit tersebut, menurut dia, hanya menilai anomali reflekstifitas dan suhu sekitar yang diinterpretasikan sebagai titik panas namun penyebab adanya anomali tersebut tidak dapat dipastikan.

Agung Sudiono menambahkan kondisi kekeringan dan hembusan angin yang kencang juga menjadi penyebab tidak langsung dalam sebaran suatu titik panas tersebut.

Baca juga: KLHK waspadai potensi karhutla di siklus puncak musim kemarau
Baca juga: Menyikapi lahan tak bertuan penyebab karhutla
Baca juga: KLHK tingkatkan keterlibatan masyarakat kendalikan kebakaran hutan

Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar