Sidang gugatan Hizbut Tahrir tayangkan video muktamar di GBK

id pembubaran hti,hizbut tahrir indonesia,sidang gugatan hti

Sidang gugatan Hizbut Tahrir tayangkan video muktamar di GBK

Suasana sidang Perppu Ormas yang dihadiri kuasa hukum HTI Yusril Ihza Mahendra (kanan) pada Kamis (14/9/2017). Sekarang HTI menggugat Kemenkumham melalui PTUN mengenai pencabutan badan hukum ormas itu. (ANTARA/Sigid Kurniawan) ()

Jakarta (ANTARA News) - Video mengenai Muktamar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Gelora Bung Karno, Jakarta, diputar dalam sidang gugatan terkait pembubaran organisasi kemasyarakatan itu di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur, Kamis.

Rekaman kegiatan HTI itu menjadi salah satu barang bukti yang dihadirkan tergugat, yaitu Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), dalam sidang gugatan tentang pencabutan status badan hukum HTI.

"Ini salah satu rekaman yang memperlihatkan HTI menyerukan tentang khilafah yang mulia," ujar salah satu kuasa hukum Kemenkumham Hafzan Taher dalam persidangan.

Cuplikan gambar berdurasi dua menit, yang diambil pada 2013 itu, berisi pernyataan salah satu orator HTI yang menyatakan bahwa nasionalisme telah memecah belah umat.

Tidak hanya itu, oknum tersebut juga menyerukan agar anggota HTI mengangkat satu orang di antara mereka untuk menjadi khilafah.

Pernyataan untuk menjalankan hukum Islam dan meninggalkan sistem perundang-undangan, juga disampaikan dalam rekaman tersebut.

Rekaman tersebut juga pernah diputar Menteri Dalam Negeri, saat memberikan keterangan dari pihak pemerintah, dalam sidang Mahkamah Konstitusi terkait uji materi Perppu Ormas yang juga diajukan HTI pada 2017, kata dia.

"Kami mohon video ini dapat menjadi perhatian dan menjadi bahan pertimbangan yang mulia," kata Hafzan.

Sidang dengan agenda penyampaian barang bukti oleh pihak tergugat dan bukti tambahan oleh pihak penggugat itu juga dihadiri Teguh Samudera dan I Wayan Sudirta sebagai kuasa hukum Kemenkumham.

Juru bicara HTI Ismail Yusanto juga tampak hadir dalam sidang terbuka itu.

Pewarta : Agita Tarigan
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar