Menurunkan kecenderungan merokok diakui sulit

id perokok,prevalensi merokok,perempuan perokok,anak-anak perokok,kementerian kesehatan

Menurunkan kecenderungan merokok diakui sulit

Ilustrasi perokok. Pada 2011 konsumsi rokok Indonesia lebih dari 225 miliar batang/tahun dengan jumlah perokok mencapai 65 juta orang. (FOTO ANTARA/M Agung Rajasa)

Surabaya (ANTARA News) - Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatank, Anung Sugiantono, mengatakan, salah satu target Nawacita adalah menurunkan prevalensi merokok. Target ini akan sulit tercapai kecuali dengan upaya sangat keras dan masif.

"Melihat berbagai data dan riset, prevalensi merokok meningkat tajam, prevalensi perokok 15 tahun ke atas dan perempuan meningkat," kata dia, dalam Konferensi Indonesia tentang Tembakau atau Kesehatan (ICTOH) Ke-5 di Surabaya, Senin.

Ia mengatakan, perokok pemula di Indonesia juga usianya semakin muda. Permasalahan-permasalahan itu harus dipecahkan bersama bila ingin mewujudkan Nawacita.

Menurut dia, tantangan ke depan adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran dan komitmen bersama masyarakat dan pemerintah.

"Membangun kesadaran masyarakat akan hak lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok, penting dilakukan pada masa kini dan masa depan," katanya.

Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, proporsi perokok terbesar berada pada usia 15 tahun hingga 19 tahun atau remaja, yaitu 7,1 persen. Pada usia 10 tahun hingga 14 tahun ditemukan 1,4 persen perokok.

Penduduk usia 15 tahun ke atas dilaporkan terdapat peningkatan perilaku merokok dari 34,2 persen pada 2007 menjadi 36,3 pada 2013. Bila dilihat berdasarkan jenis kelamin, presentase pengguna rokok adalah 64,9 persen laki-laki dan 2,1 persen perempuan.

Sedangkan menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005, belanja bulanan rumah tangga perokok menempatkan belanja tembakau di urutan kedua (10,4 persen dari pendapatan keluarga) setelah padi-padian (11,3 persen dari pendapatan keluarga).

Pembelanjaan untuk tembakau setara dengan lima kali belanja daging, telur, susu; tiga kali biaya pendidikan; dan empat kali untuk keperluan kesehatan. 

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar