Warga lereng Merapi di Magelang tinggalkan tempat pengungsian

id pengungsi merapi,warga lereng merapi,dampak letusan merapi,erupsi merapi,merapi meletus

Warga lereng Merapi di Magelang tinggalkan tempat pengungsian

Setelah letusan Merapi kemarin, warga yang tinggal di lereng gunung itu juga mengungsi di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. (ANTARA/Hendra Nurdiyansyah)

Magelang, Jawa Tengah (ANTARA News) - Sejumlah warga daerah lereng Gunung Merapi di Dusun Babadan 2, Desa Paten, Kabupaten Magelang, sudah meninggalkan tempat pengungsian sementara di balai desa setempat dan pulang ke rumah masing-masing menurut kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edy Susanto, Sabtu.

Gunung Merapi pada Jumat (1/6) meletus pukul 08.20 WIB dan kemudian meletus dua kali lagi malamnya, membuat warga Dusun Babadan 2 yang panik mengungsi ke balai desa.

"Warga panik karena mereka masih trauma dengan kejadian tahun 2010 dan mereka memutuskan untuk evakuasi mandiri ke Balai Desa Paten," katanya merujuk pada letusan besar Merapi tahun 2010 yang menewaskan 200 orang dan memaksa 400.000 orang mengungsi.

Warga Dusun Babadan 2, ia melanjutkan, mengungsi sejak sekitar pukul 22.30 WIB dan sekitar pukul 00.45 WIB sebagian warga meninggalkan balai desa setelah mendapatkan penjelasan dari petugas BPBD.

Pada pukul 01.39 WIB dari 110 keluarga yang mencakup 370 orang yang sempat mengungsi tinggal tersisa empat keluarga yang terdiri atas 12 orang di Balai Desa Paten.

"Namun pada Sabtu pagi empat keluarga tersebut juga sudah pulang ke rumah masing-masing," kata Edy, menambahkan semalam petugas juga menyalurkan beras dan lauk pauk serta tikar untuk pengungsi.

Warga, ia menjelaskan, sebelumnya memutuskan untuk mengungsi karena memang getaran akibat letusan Merapi pada Jumat pagi cukup besar dan malamnya disusul dengan dua kali letusan.

Baca juga:
Merapi semburkan asap setinggi 2.500 meter dalam letusan kedua
Merapi meletus lagi

 

Pewarta : Heru Suyitno
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar