Menag sebut santri pionir persatuan bangsa

id menag lukman hakim,santri pionir persatuan,hari santri nasional

Menag sebut santri pionir persatuan bangsa

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin (kanan) didampingi petugas dan peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) V Tahun 2018 menanam bibit lengkeng usai membuka PPSN V di Bumi Perkemahan Abdurrahman Sayoeti-Musa Sungaigelam, Muarojambi, Jambi, Kamis (25/10/2018). PPSN yang telah dimulai sejak Rabu (24/10) dan secara resmi dibuka pada Kamis (25/10) ini tersebut digelar dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2018 dengan diikuti ribuan perwakilan peserta dari 34 provinsi yang bertujuan merevitaslisasi gerakan pramuka melalui budaya pesantren, budaya nusantara, dan semangat nasionalisme. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Jakarta  (ANTARA News) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan santri harus bisa menjadi pionir dalam menjalin persatuan dan kesatuan.

Di sela Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) V di Bumi Perkemahan Abdurrahman Sayoeti Musa, Jambi, Kamis, Lukman mengatakan santri harus bisa menjaga keutuhan negara sembari konsisten di jalur keislaman.

Dalam keterangan tertulis, dia mengatakan santri tidak boleh terbawa pengaruh radikalisme yang belakangan ada tren mengalami pertumbuhan.

"Pada perkembangan terakhir ini, kelompok-kelompok radikal selalu mempertentangkan antara keislaman dengan keindonesiaan," katanya.

Dengan simbol-simbol Islam, kata dia, kelompok itu melakukan hal-hal yang berimplikasi memecah belah persatuan bangsa.

Lukman mengatakan justru sejarah pesantren cukup kental dengan warna nasionalisme dan patriotisme.

Pada masa penjajahan, kata dia, pesantren menjadi tempat penggemblengan para penjuang.

"Untuk itu, pesantren harus terus menggelorakan pentingnya cinta Tanah Air dan patriotisme," katanya.

 Baca juga: Santri jangan berbuat sekehendaknya
 Baca juga: Polisi tahan pembawa bendera dalam kasus pembakaran bendera
Baca juga: Polri imbau masyarakat tidak terprovokasi untuk menggelar aksi

Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar