Ibu sehat bangsa kuat

id Kerdil,Stunting,Ibu,Kehamilan,Kesehatan

Ibu sehat bangsa kuat

Bidang Advokasi dan Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia Laurensia Lawintono saat dialog dalam peluncuran program BERANI kerja sama Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) dan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) yang didanai pemerintah Kanada di Jakarta, Senin (10/12/2018). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Jakarta (ANTARA News) - Bidang Advokasi dan Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia Laurensia Lawintono mengatakan kesehatan ibu sangat penting karena merupakan kunci untuk mewujudkan bangsa yang kuat.

"Bila ibu sehat, keluarga akan sehat dan bangsa menjadi kuat. Karena itu, kesehatan ibu sangat penting," kata Laurensia dalam peluncuran program BERANI di Jakarta, Senin.

Laurensia mengatakan pemenuhan gizi memiliki peran penting selama kehamilan seorang ibu yang menentukan masa depan anak yang akan dilahirkan.

Menurut Laurensia, status kesehatan dan gizi ibu sebelum, selama dan setelah kehamilan sangat berdampak pada tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan.

"Penyebab utama kerdil atau 'stunting' adalah cara pemberian makan yang tidak tepat, pemenuhan gizi ibu yang tidak memenuhi syarat dan memadai atau adekuat, serta sanitasi yang buruk sehingga menyebabkan infeksi," jelasnya.

Anak kerdil atau "stunting" merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi penduduk dunia dari negara-negara berkembang.

Saat ini, 162 juta balita di seluruh dunia dinyatakan kerdil. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menargetkan penurunan 40 persen pada 2025.

Program BERANI (Better Reproductive Health and Rights for All in Indonesia) merupakan proyek kerja sama Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) dan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) yang didanai pemerintah Kanada untuk hak kesehatan reproduksi yang lebih baik di Indonesia.*

Baca juga: Perangi "stunting" dengan pola hidup sehat

Baca juga: Menkes: angka kekerdilan turun jadi 30,8 persen


 

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar