Dilema gajah dan manusia (1)

id konservasi gajah

Dilema gajah dan manusia (1)

Tim medis kesehatan hewan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memeriksa kondisi seekor gajah jinak betina yang cedera akibat diserang kawanan gajah liar di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime, Bener Meriah, Aceh, Selasa (12/2/2019). Gajah jinak yang bernama Ida dengan umur sekitar 40 tahun mengalami cedera pada kaki kiri belakang sehingga harus dievakuasi ke PLG Saree untuk penanganan medis. (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)

"Duduk, duduk!" intruksi itu berasal dari seorang pria bernama Amilin. Sekilas suaranya lantang seperti sedang marah.

Namun, ia melakukannya itu ketika memerintahkan gajah, satwa jinak yang dirawatnya selama ini. Di sampingnya, banyak pengunjung yang berfoto, sebagian lagi meminta untuk dapat menunggangi satwa bertubuh besar ini.

Selain memerintahkan untuk duduk, dia juga memerintahkan untuk mengambil air dari belalai dan menyemburkannya ke pengunjung.

Selain menikmati keindahan alam yang ada di Aceh, kini wisatawan baik lokal maupun mancanegara dapat ikut serta menyaksikan sekaligus beredukasi mengenai satwa pemilik gading di Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. Di sana merupakan tempat konservasi dan penempatan gajah jinak di hutan belantara.

CRU sebagai tempat pelatihan dan penempatan gajah jinak, kini juga menjadi ekowisata satwa yang ada di Aceh. Lokasinya terletak di Dusun Sarah Deu, Desa Ie Jeurangeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. Letaknya 20 kilometer dari jalan nasional Banda Aceh-Meulaboh (Kabupaten Aceh Barat).

Wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke sina melalui arah Banda Aceh, akan lebih dulu disuguhkan dengan keindahan alam Aceh di Kabupaten Aceh Jaya. Tepatnya di puncak gunung geurutee.

Dari Banda Aceh ke CRU Sampoiniet berjarak sekitar 148 kilometer, butuh waktu kurang lebih 3 jam setengah untuk sampai ke CRU Sampoiniet, baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

CRU Sampoiniet memiliki kegiatan rutin setiap harinya. Ada empat ekor gajah di sini. Menariknya, keempatnya memiliki nama dan usia serta jenis kelamin yang berbeda. Empat ekor gajah tersebut adalah spesies gajah sumatera yang termasuk dalam hewan langka dan dilindungi.

Gajah yang memiliki tubuh dan gading paling besar bernama Aziz berusia 35 tahun, ada juga Isabella yang paling tua dari keempat gajah di sana, berusia 39 tahun, Johanna 23 tahun, dan Ollo 27 tahun.

Biasanya setiap pagi, mahout (pawang) di sini akan lebih dulu memberi makan dan minum gajah, kemudian memeriksa kesehatan gajah, dan dilanjutkan dengan memandikan gajah di sungai yang berada persis di belakang basecamp CRU Sampoiniet.

Biasanya juga jika sedang ada pengunjung, mereka juga turut diikutsertakan menunggangi gajah menuju ke tempat pemandian.

Nantinya mahout akan memerintahkan gajah untuk duduk di dasar air, kemudian dia dan pengunjung yang ikut akan menyikat bagian tubuh gajah hingga bersih.

Setelah dimandikan, gajah akan dibawa lagi ke CRU. Di sana, mahout akan melatih gajah agar mematuhi apa yang diperintahkan oleh mereka dan pengunjung juga dapat ikut bermain dengan gajah.

"Kalau udah habis dimandikan, nanti dia main-main atau makan lagi. Kalau ada pengunjung yang datang, kita ajak main sama pengunjung," kata Amilin.

Selain melatih gajah-gajah, mahout di sini juga berpatroli ke hutan. Biasanya dilakukan sekali dalam sepekan. Mahout dan gajah berpatroli dengan tujuan untuk mengawasi adanya gajah liar yang masuk ke perkampungan atau perkebunan warga serta membuka jalan baru.

"Biasanya ada patroli seminggu sekali, atau ada juga nanti kemungkinan warga kasih informasi adanya gajah liar yang masuk, kita patroli lagi di luar dari jadwal patroli biasanya. Karena itulah kegunaan adanya CRU," kata dia.

Kisah mahout gajah

Hidup di kawasan hutan belantara tanpa listrik dan juga sinyal tentu menjadi tantangan tersendiri di tengah era teknologi saat ini. Hal ini pula yang dialami oleh para mahout dan petugas CRU lainnya. Mereka memilih hidup di hutan belantara untuk menjaga satwa yang dilindungi ini.

Peran CRU sebagai sebuah unit manejemen konservasi yang berbasis full time di lapangan, serta penempatan staff secara full time berdampingan dengan masyarakat tentu menjadi upaya utama mitigasi konflik antara satwa liar dan manusia, sehingga mereka juga harus meyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungan hutan.

Amilin yang merupakan asisten mahout mengatakan, dirinya bergabung menjadi staff di CRU Sampoiniet kurang lebih sudah 3 tahun.

Sebelum bergabung sebagai petugas di CRU, dirinya merupakan anggota Wilayatul Hisbah (WH) yang bertugas di Calang, Aceh Jaya.

Ia juga merupakan salah satu warga di Desa Ie Jeurangeh, sehingga awal mula adanya CRU Sampoiniet ia kerap bermain ke tempat itu, sebelum akhirnya ia ditawarkan menjadi asisten mahout.

"Kurang lebih udah 3 tahun di sini. Sekitar awal tahun 2015 bergabung. Awal adanya CRU sering kemari untuk main-main sama gajah. Akhirnya jadi asisten mahout di sini," kata dia.

Setiap pekerjaan tentu memiliki konsekuensi tersendiri, menjadi mahout menurutnya memiliki risiko yang tinggi. Selain hidupnya yang berada di tengah hutan belantara, mahout kerap kali juga harus berhadapan dengan satwa liar yang ada di hutan.

Milin menceritakan, ia dan rekan kerjanya, kerap berhadapan dengan gajah liar ketika sedang melakukan patroli.

"Misalnya lagi patroli, atau ada laporan dari warga kalau ada gajah liar. Kita harus ke sana. Kita yang mengejar gajah, tapi bisa jadi gajah yang balik mengejar kita," kata dia.

Namun demikian, menurutnya, gajah berbalik arah mengejar manusia disebabkan oleh jalan gajah terhalangi, sehingga mau tidak mau, gajah-gajah itu berbalik arah, dan berhadapan dengan manusia.

"Inilah risikonya. Setiap pekerjaan pasti ada risikonya. Kami sering kejar-kejaran sama gajah liar. Sebenarnya gajahnya nggak bermaksud mau nyerang. Tapi karena jalannya terhalangi, otomatis mereka harus mutar balik. Gimana contoh dihalangi?, misalnya pas gajahnya lari, ada tebing atau ada hutan yang tidak ada jalan. Otomatis dia berbalik arah lagi. Nah, pas balik itu ternyata berhadapan sama kita," ujarnya.

Mahout-mahout di CRU Sampoiniet ini kerap melakukan patroli dengan membawa berbagai perlengkapan, seperti petasan, maupun kayu-kayu pohon yang ditemui sepanjang perjalanan.

Gunanya, untuk menakut-nakuti gajah agar tidak balik menyerang. Biasanya petugas juga membawa petasan. Mereka takut sama suara petasan.

Atau mau tidak mau harus bawa kayu. Intinya, jangan sampai menyakiti gajah-gajah liar itu, karena bagaimapun mereka harus dilindungi.

Baca juga: Tujuh pemegang konsesi Riau sepakat ikut konservasi gajah
Baca juga: Gajah liar ditemukan mati tanpa gading di Aceh

 

Pewarta : Heru Dwi Suryatmojo
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar