AS-China nyalakan kembali pembicaraan perdagangan jelang pertemuan G20

id Perang dagang,perundingan AS-China,KTT G20

AS-China nyalakan kembali pembicaraan perdagangan jelang pertemuan G20

Dokumentasi Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu dengan para pemimpin bisnis di Aula Besar Rakyat di Beijing, Tiongkok, 9 November 2017. (REUTERS/Damir Sagolj)

Washington (ANTARA) - China dan Amerika Serikat menyalakan kembali pembicaraan perdagangan menjelang pertemuan minggu depan antara Presiden Donald Trump dan Xi Jinping, yang disambut gembira pasar keuangan dengan harapan bahwa perang dagang yang meningkat antara kedua negara akan mereda.

Trump mengatakan pada Selasa (18/6/2019) bahwa tim dari kedua belah pihak akan memulai persiapan bagi para pemimpin untuk duduk di KTT G20 di Osaka.

China, yang sebelumnya menolak mengatakan apakah kedua pemimpin akan bertemu, mengkonfirmasi pertemuan itu.

“Melakukan percakapan telepon yang sangat baik dengan Presiden Xi dari Tiongkok. Kami akan mengadakan pertemuan diperpanjang minggu depan di G-20 Jepang. Tim kami masing-masing akan memulai pembicaraan sebelum pertemuan kami," kata Trump dalam sebuah posting di Twitter.

Dua ekonomi terbesar dunia itu berada di tengah-tengah perselisihan perdagangan mahal yang telah menekan pasar keuangan dan merusak ekonomi dunia.

Pembicaraan untuk mencapai kesepakatan luas terhenti bulan lalu, setelah para pejabat AS menuduh China mundur dari komitmen yang telah disepakati sebelumnya. Interaksi antara kedua belah pihak sejak itu telah terbatas, dan Trump telah mengancam, berulang kali, untuk mengenakan tarif lebih banyak pada produk-produk China dalam eskalasi yang ingin dihindari oleh bisnis di kedua negara.

Pejabat Gedung Putih menolak untuk merinci persiapan atau hasil yang diharapkan dari pembicaraan di Jepang, tetapi kedua belah pihak menegaskan kembali posisi lama: pejabat AS menyerukan perubahan struktural dalam ekonomi China dan bagaimana Beijing memperlakukan bisnis AS, China menyerukan dialog bukannya tarif mahal.

"Kuncinya adalah untuk menunjukkan pertimbangan terhadap keprihatinan ligitimasi satu sama lain," kata Xi, menurut media pemerintah China, dilansir Reuters.

“Kami juga berharap Amerika Serikat memperlakukan perusahaan China secara adil. Saya setuju bahwa tim ekonomi dan perdagangan kedua negara akan menjaga komunikasi tentang cara menyelesaikan perbedaan."

Washington telah mengenakan tarif 25 persen untuk barang-barang China senilai 250 miliar dolar AS, mulai dari semi-konduktor hingga furnitur, yang diimpor ke Amerika Serikat.

Trump telah mengancam untuk mengenakan tarif pada barang-barang lain senilai 325 miliar dolar AS, mencakup hampir semua produk impor China yang tersisa ke Amerika Serikat, termasuk produk-produk seperti ponsel, komputer dan pakaian.

Trump tidak merahasiakan itu, meskipun ancamannya meningkatkan perselisihan, ia ingin bertemu dengan Xi saat mereka berdua di Jepang. Konfirmasi China tentang pertemuan itu menghindari kemungkinan penghinaan ke Washington yang bisa memicu putaran tarif lain.

Trump memuji hubungannya dengan Xi dan berbicara dengan optimis tentang mendapatkan kesepakatan.

“Saya pikir kita punya kesempatan. Saya tahu bahwa China ingin membuat kesepakatan. Mereka tidak menyukai tarif, dan banyak perusahaan meninggalkan China untuk menghindari tarif," katanya kepada wartawan di Gedung Putih.

“Saya pikir pertemuan itu mungkin akan berjalan dengan baik, dan terus terang orang-orang kami mulai melakukan kesepakatan mulai besok. Tim-tim mulai berurusan. Jadi kita akan lihat. China ingin membuat kesepakatan. Kami ingin membuat kesepakatan, tetapi itu harus menjadi kesepakatan yang bagus untuk semua orang."

Cuitan Trump menawarkan pemicu baru ke reli di Wall Street karena investor bertaruh pembicaraan baru dapat meredakan perang dagang antara kedua raksasa ekonomi tersebut. S&P 500 naik hampir satu persen, sedangkan Nasdaq dan Dow Jones Industrial Average keduanya naik sekitar 1,4 persen. Semua ditutup pada level tertinggi sejak awal Mei ketika Trump mengetok pasar saham global dengan menaikkan tingkat tarif atas barang impor China senilai 200 miliar dolar AS.

"Ini adalah perkembangan yang sangat positif," kata Clete Willems, mantan negosiator perdagangan dengan tim Trump, yang mengutip pentingnya pertemuan antara Xi dan presiden AS di G20 terakhir di Argentina.

“Keterlibatan tingkat pemimpin di G20 tahun lalu sangat penting untuk memulai pembicaraan. Sangat penting untuk mengelola dinamika politik saat ini dan mengembalikan pembicaraan ke jalurnya sekali lagi,” katanya.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menolak memberikan perincian tentang bagaimana kedua negara akan mempersiapkan diri untuk pertemuan Xi-Trump dan mengatakan Amerika Serikat akan terus mendesak China untuk mengubah praktiknya dalam pencurian kekayaan intelektual dan persyaratan bahwa perusahaan-perusahaan AS berbagi teknologi mereka untuk melakukan bisnis di China.

“Posisi kami akan terus menjadi (bahwa) kami menginginkan perubahan struktural. Kami ingin perubahan struktural pada semua item ... pencurian IP, transfer teknologi paksa, peretasan siber. Tentu saja hambatan perdagangan. Kita harus memiliki sesuatu yang dapat diberlakukan," katanya kepada wartawan di Gedung Putih.

Kedua belah pihak hampir mencapai kesepakatan pada Mei yang membahas banyak dari keprihatinan itu. Tetapi China berusaha untuk melunakkan persyaratan hukum dalam naskah perjanjian, dan Amerika Serikat menolak keras.

Menurut media pemerintah China, Xi mengatakan kepada Trump bahwa hubungan China-AS mengalami kesulitan. “Jika China dan Amerika Serikat bekerja sama, keduanya diuntungkan. Jika mereka bertempur, keduanya terluka," kata media pemerintah mengutip Xi.

Beijing ingin Amerika Serikat mencabut tarifnya, tetapi Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, yang telah mempelopori negosiasi, mengatakan pada Selasa (18/6/2019) bahwa pembicaraan saja tidak cukup.

“Saya tidak tahu apakah itu akan membuat mereka berhenti selingkuh, tarif saja. Saya pikir Anda tidak memiliki pilihan lain," Lighthizer mengatakan pada sidang kongres. "Saya tahu satu hal yang tidak akan berhasil dan itu berbicara kepada mereka. Karena kita sudah melakukannya selama 20 tahun," katanya.

Baca juga: Bursa Wall Street naik di tengah harapan perang dagang AS-China mereda
Baca juga: Indef : Indonesia belum optimal manfaatkan perang dagang Amerika-China
Baca juga: Jelang KTT G20, Jepang ringkus pelaku penikaman polisi

Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar