Pertamina: Konsumsi elpiji di Sumut kembali normal

id Pertamina MOR I, elpiji 3 kg, permintaan elpiji normal, berita sumut hari ini, berita sumut terkini

Pertamina: Konsumsi elpiji di Sumut kembali normal

Unit Manager Communication & CSR Marketing Operation Region (MOR) I PT Pertamina, Roby Hervindo. (Antara Sumut/Evalisa Siregar)

Medan (ANTARA) - Konsumsi atau permintaan elpiji subsidi dan nonsubsidi di Sumatera Utara usai Lebaran 2019 kembali normal, setelah sebelumnya sempat naik masing-masing tujuh dan lima persen.

"Konsumsi normal elpiji subsidi 3 kg sebanyak 400 ribu tabung per hari dan yang nonsubsidi sejumlah 113 MT (metriks ton)," ujar Unit Manager Communication & CSR Marketing Operation Region (MOR) I PT Pertamina Roby Hervindo, di Medan, Jumat

Saat Ramadhan dan Lebaran 2019, konsumsi elpiji subsidi naik tujuh persen atau menjadi 432 ribu tabung per hari. Sedangkan elpiji non subsidi meningkat sebanyak lima persen atau 117 MT per hari.

Permintaan elpiji yang normal bahkan terlihat di Kabupaten Asahan dan Kota Tanjungbalai yang sebelumnya mengalami kenaikan, sehingga Pertamina melakukan penambahan penyaluran.
Baca juga: Permintaan elpiji 3 kg di Sumut naik lima persen

Penyaluran elpiji 3 kg ke Tanjungbalai sempat ditambah sekitar 18.000 tabung. Sementara Kabupaten Asahan ditambah 77.240 tabung.

"Konsumsi yang normal dampak aktivitas masyarakat yang juga kembali normal," katanya lagi.

Karena permintaan sudah normal, maka Pertamina juga kembali menyalurkan sesuai angka normal, ujarnya.

Roby memastikan harga elpiji bersubsidi di semua pangkalan termasuk di 610 pangkalan di Asahan dan 118 di Kota Tanjungbalai sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan.

HET untuk Kota Tanjungbalai di pangkalan adalah Rp16.500 dan di Asahan R 17.000 per tabung.

"Konsumen agar tidak membeli dengan harga mahal akibat ulah pedagang, Pertamina berharap warga membeli elpiji di pangkalan resmi Pertamina," ujar Roby.

Pertamina, ujarnya pula, terus mengingatkan agen dan pangkalan untuk tidak menjual elpiji bersubsidi ke para pengecer.

Agen maupun pangkalan yang terbukti melanggar ketentuan itu akan mendapat sanksi dari Pertamina, mulai dari teguran hingga pemutusan hubungan usaha (PHU).

"Manajemen mendukung pemda dan aparat terkait seperti Disperindag dan Polda Sumut untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian pengecer karena Pertamina tidak punya wewenang mengatur pengecer," ujar Roby.

Pertamina juga meminta warga agar tidak mudah termakan isu kelangkaan, karena stok elpiji dipastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


Pewarta : Evalisa Siregar
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar