JICA: Bencana tidak dapat dihindari selama tinggal di wilayah rawan

id Gempa,Tsunami,Jepang,Naoto Tada

JICA: Bencana tidak dapat dihindari selama tinggal di wilayah rawan

Pakar Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) yang ditugaskan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Naoto Tada saat jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (31/7/2019). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Jakarta (ANTARA) - Pakar Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) yang ditugaskan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Naoto Tada mengatakan bahaya bencana tidak akan dapat dihindari selama tinggal di wilayah yang rawan bencana.

"Setelah gempa dan tsunami Tohoku pada 2011, kami menyadari tsunami telah melampaui banyak perkiraan dan tidak ada batas atas dalam bencana," kata Naoto dalam jumpa pers di Graha BNPB, Rabu.

Karena itu, untuk menghadapi bencana, pemerintah Jepang mengidentifikasi bencana yang paling banyak di setiap daerah meskipun tidak akan sempurna untuk menghindari korban dan kerugian ekonomi yang besar.

Berdasarkan pengalaman gempa dan tsunami Tohoku, Kantor Kabinet Jepang kemudian melakukan kajian simulasi tsunami yang disebabkan Palung Nankai pada Maret 2012.

"Berdasarkan simulasi tersebut, sesuai dengan tsunami 2011 yang mencapai ketinggian 34 meter, perkiraan kematian bisa mencapai 320 ribu jiwa atau 17 kali kejadian 2011," tuturnya.

Karena itu, didukung oleh pemberitaan di media massa, pemerintah pusat dan daerah di Jepang kemudian melakukan upaya mitigasi terhadap gempa dan tsunami, seperti membuat bangunan tahan gempa, perencanaan tata ruang, hingga pendidikan dan pelatihan kesiapsiagaan bencana.

"Pemerintah juga mengampanyekan tiga prinsip, yaitu tidak boleh menyerah, mulai evakuasi setelah guncangan, dan evakuasi lebih cepat ke tempat aman," jelasnya.

Berdasarkan prinsip tidak menyerah, pemerintah Jepang melakukan pendidikan kebencanaan kepada penduduk dan siswa secara menyeluruh dan merelokasi bangunan-bangunan vital dan pusat penyelamatan ke wilayah yang diperkirakan tidak terjangkau tsunami.

Pemerintah Kota Kuroshio, yang berdasarkan simulasi berpotensi diterjang tsunami tertinggi, juga membangun menara-menara evakuasi dengan ketinggian 22 meter yang masing-masing dapat menampung 230 orang.

"Pemerintah juga memberikan subsidi untuk memperkuat bangunan agar tahan gempa dan mengadakan seminar untuk penduduk dan tukang bangunan," katanya.

Yang tidak kalah penting, masyarakat Jepang juga membangun upaya mitigasi bencana di tingkat terkecil, yaitu komunitas hingga keluarga dengan membuat kartu berisi catatan-catatan penting dan melakukan latihan evakuasi secara berkala. 

Baca juga: Pakar: Pernah terjadi tsunami di Pantai Selatan Jawa di masa lalu
Baca juga: LIPI siapkan peta rendaman tsunami skala 1:10.000
Baca juga: Bahan ajar kesiapsiagaan bencana tsunami diuji coba di PAUD

 

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar