Kekurangan air bersih dialami ratusan warga Desa Kalimati-Boyolali

id warga desa kalimati,kabupaten boyolali,jateng,kekurangan air bersih,kemarau

Kekurangan air bersih dialami ratusan warga Desa Kalimati-Boyolali

Sejumlah warga antre mengambil air di sebuah sumur kecil di Sungai Kedungdondo, Desa Kalimati, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (7/8/2019). Pada musim kemarau ini warga desa itu kekurangan air bersih. (FOTO ANTARA/Bambang Dwi Marwoto)

Boyolali (ANTARA) - Ratusan warga di Desa Kalimati, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengalami kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari akibat dampak musim kemarau yang berkepanjangan sejak Juni hingga Agustus ini.

Sumarni (35) salah satu warga Desa Kalimati, Juwangi, di Boyolali, Rabu, mengatakan, dampak kekeringan yang melanda di wilayah Boyolali selama tiga bulan terakhir ini, warga di desa itu mengalami kekurangan air bersih, karena sumur sebagai andalan sumber mata air sudah tidak keluar airnya.

Menurut Sumarni untuk mendapatkan air bersih selama musim kekeringan saat ini warga Desa Kalimati harus membuat sumur kecil di dasar Sungai Kedungdondo desa setempat.

Menurut dia, Sungai Kedungdondo pada musim kemarau saat ini mengering dan warga kemudian membuat sumur kecil dengan kedalaman sekitar 1 hingga 2 meter untuk mendapatkan air.

"Warga harus menggali atau membuat sumur kecil yang kedalamannya sekitar 1 hingga 2 meter dari dasar sungai untuk mendapatkan air," katanya.

Selain itu, warga juga harus menunggu sekitar 30 menit, air baru keluar dan bisa diambil dengan gayung kemudian dimasukkan kedalam "kendi" atau tempat air dari bahan gerabah.

Warga menggunakan gayung mengambil sedikit demi sedikit dari lubang itu untuk memenuhi kendinya untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Bahkan, warga untuk mendapatkan air harus berjalan sejauh sekitar 1 kilometer dari permukiman untuk mencapai Sungai Kedungdondo yang kering di desa setempat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Warga lainnya, Watini (60) mengatakan warga terpaksa mencari air di sungai kering tersebut karena mereka tidak mampu membeli air bersih. Air yang dimanfaatkan warga ini, kelihatan jernih, tetapi agar berbau tidak sedap.

Menurut Watini air dari sungai ini, digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti masak, minum, mandi, dan persediaan minum ternaknya.

"Saya berharap pemerintah dapat menambah kiriman bantuan air bersih di daerah ini, selama musim kemarau," katanya.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Boyolali Bambang Sinungharjo mengatakan pihaknya sudah memasok air bersih ke Juwangi termasuk Desa Kalimati sebanyak 30 tangki dengan isi 5.000 liter per tangki.

Menurut dia, musim kemarau saat ini, yang sudah kena dampaknya di wilayah Kecamatan Juwangi, Wonosegoro, Wonosamodro, Tamansari, Musuk, dan Kemusu. Pihaknya hingga saat ini, sudah melakukan bantuan air bersih sebanyak 145 tangki.

"Kami pada anggaran tahun ini, telah menyediakan 338 tangki dari BPBD, 300 tangki (Kesra), dan 300-san lebih (donatur), sehingga ada 1.000 tangki lebih," kata Bambang Sinungharjo.

Oleh karena itu, pihaknya meminta warga yang membutuhkan bantuan air bersih bisa membuat surat melalui RT dan kelurahan serta langsung menghubungi BPBD setempat sehingga pasokan air langsung dilakukan ke daerah yang membutuhkan. ***3***

Baca juga: Dampak kekeringan di Boyolali masih di bawah 25 persen

Baca juga: 655.000 liter air didistribusikan bantu bencana kekeringan Banyumas

Baca juga: Delapan desa di Cilacap mengalami kekeringan

Pewarta : Bambang Dwi Marwoto
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar