Masyarakat Pedalaman Papua Mulai Pahami Pogram KB
Kamis, 11 Maret 2010 12:02 WIB
Sentani (ANTARA News) - Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Keerom, Papua, Dorkas Suebu mengatakan, masyarakat di pedalaman mulai memahami program Keluarga Berencana (KB).
"Selama ini masyarakat hanya terfokus bahwa KB itu dengan duacukup, sehingga mereka kurang menerima program itu", kata Dorkas di Arso, ibukota Kabupaten Keerom, Kamis
Dia mengatakan, setelah dirinya memberikan pehamanan melalui pendekatakan kepada suami sebagai kepala keluarga dan memberikan pemahaman bahwa program KB bukan membatasi dua anak, melainkan mengatur jarak kelahiran, maka masyarakat mulai memahami program tersebut.
"Melalui penyuluhan kita memberikan pemahaman bahwa ibu tidak hanya hamil dan mengurus anak, tapi juga mengurus diri, mengurus keluarga, agar tercipta keluarga yang sehat dan berkualitas", kata Dorkas
Dia mengakui, masyarakatnya, terutama yang berada di daerah pedalaman, beranggapan bahwa program KB adalah melarang kaum ibu melahirkan, sehingga mereka enggan mengikuti program KB.
Akibatnya, kata dia, tingkat kematian ibu dan anak tinggi, karena proses kehamilan yang berdekatan dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan.
Sesuai data yang dikutip dari buku yang diterbitkan Humas Kabupaten Keerom, pemahaman tentang kesehatan keluarga dilakukan berbagai cara.
Cara itu, misalnya, penyuluhan yang dilakukan melalui kemitraan peningkatan kesehatan anak dan balita, pelayanan kesehatan penduduk miskin, dan peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak.
Kabupaten Keerom yang berbatasan dengan negara tetangga Papua Nugini kondisi geografisnya sulit ditempuh.
Jarak antardistrik saling berjauhan dan perlu berjam-jam perjalanan untuk mengunjungi satu distrik ke distrik lainnya.
Sejumlah distrik hanya bisa dijangkau dengan menggunakan pesawat kecil, yaitu Distrik Toe dengan tarif carteran Rp 15 juta atau Rp 7,5 juta per orang. (T.KR-HLM/s018)
"Selama ini masyarakat hanya terfokus bahwa KB itu dengan duacukup, sehingga mereka kurang menerima program itu", kata Dorkas di Arso, ibukota Kabupaten Keerom, Kamis
Dia mengatakan, setelah dirinya memberikan pehamanan melalui pendekatakan kepada suami sebagai kepala keluarga dan memberikan pemahaman bahwa program KB bukan membatasi dua anak, melainkan mengatur jarak kelahiran, maka masyarakat mulai memahami program tersebut.
"Melalui penyuluhan kita memberikan pemahaman bahwa ibu tidak hanya hamil dan mengurus anak, tapi juga mengurus diri, mengurus keluarga, agar tercipta keluarga yang sehat dan berkualitas", kata Dorkas
Dia mengakui, masyarakatnya, terutama yang berada di daerah pedalaman, beranggapan bahwa program KB adalah melarang kaum ibu melahirkan, sehingga mereka enggan mengikuti program KB.
Akibatnya, kata dia, tingkat kematian ibu dan anak tinggi, karena proses kehamilan yang berdekatan dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan.
Sesuai data yang dikutip dari buku yang diterbitkan Humas Kabupaten Keerom, pemahaman tentang kesehatan keluarga dilakukan berbagai cara.
Cara itu, misalnya, penyuluhan yang dilakukan melalui kemitraan peningkatan kesehatan anak dan balita, pelayanan kesehatan penduduk miskin, dan peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak.
Kabupaten Keerom yang berbatasan dengan negara tetangga Papua Nugini kondisi geografisnya sulit ditempuh.
Jarak antardistrik saling berjauhan dan perlu berjam-jam perjalanan untuk mengunjungi satu distrik ke distrik lainnya.
Sejumlah distrik hanya bisa dijangkau dengan menggunakan pesawat kecil, yaitu Distrik Toe dengan tarif carteran Rp 15 juta atau Rp 7,5 juta per orang. (T.KR-HLM/s018)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden Jokowi dijadwalkan resmikan bandara di Asmat dan tinjau "food estate" Keerom
06 July 2023 8:23 WIB, 2023
BPBD Papua : Belum ada laporan terkait dampak gempa magnitudo 6,2 di sekitar Keerom
03 July 2023 13:26 WIB, 2023
Satgas TNI bagikan kelambu anti nyamuk untuk warga di perbatasan RI-PNG
23 November 2021 5:09 WIB, 2021
Satgas TNI bersama warga perbaiki jembatan di wilayah perbatasan RI-PNG
24 August 2021 5:29 WIB, 2021
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Warga binaan di Sulawesi Selatan hasilkan 2,6 ton bahan pangan saat panen raya
16 January 2026 19:32 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Mantan PM Malaysia Najib Razak dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas 25 dakwaan
27 December 2025 6:20 WIB
PM Malaysia Anwar Ibrahim sebut kabinetnya perlu libatkan banyak tokoh muda
18 December 2025 6:58 WIB
Bentrok bersenjata perbatasan Kamboja-Thailand paksa lebih banyak sekolah ditutup
16 December 2025 10:46 WIB