Pengamat anggap penusukan Wiranto bukan "playing victim"
Jumat, 11 Oktober 2019 16:32 WIB
Pengamat Komuniskasi Politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing. (Istimewa)
Jakarta (ANTARA) - Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menganggap insiden penusukan terhadap Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Wiranto bukan playing victim atau menempatkan diri sebagai korban dalam suatu permasalahan.
"Kalau ada sementara orang yang berpendapat itu playing victim, itu sama sekali tidak benar," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Emrus mengaku sudah melihat langsung gambar dan video yang tersebar di berbagai media sosial maupun layar televisi. Namun, tidak ditemukan adanya unsur playing victim.
Artinya, kata dia, tidak benar jika mantan Panglima TNI tersebut seolah-olah dibuat sebagai korban untuk mencari simpatik, sehingga masyarakat diminta untuk lebih cerdas dan dewasa dalam memahami masalah.
"Jadi jika ada anggapan seperti itu, sama sekali tidak benar dan tidak berdasar," ujar dia.
Ia mengatakan, dilihat dari sudut lambang verbal maupun nonverbal sama sekali tidak mengarah adanya unsur playing victim atau seolah-olah sebagai korban.
Pandangan tersebut ia sampaikan karena mengkhawatirkan akan ada pro dan kontra di tengah masyarakat atas insiden yang menimpa Menko Polhukam tersebut.
"Karena ini bisa saja dilakukan kelompok tertentu, ya biasa lah membentuk opini publik yang tidak produktif menurut saya," ujarnya.
Oleh karena itu, ia mendorong aparat kepolisian mengusut tuntas terkait motif pelaku yang dengan terang-terangan menyerang Wiranto menggunakan benda tajam.
Adanya sejumlah kalangan yang mencurigai kasus penusukan Menko Polhukam Wiranto sebagai kejadian rekayasa, menurut pengamat intelijen Ngasiman Djoyonegoro menunjukkan bahwa masyarakat belum benar-benar menyadari keberadaan kelompok radikal teroris di negara ini.
Oleh karena itu, lanjut Simon, sapaan akrabnya, perlu terus dilakukan literasi yang benar terkait bahaya terorisme dan juga keberadaan serta aktivitas kelompok radikal teroris itu kepada masyarakat.
"Kita semua punya kewajiban mengajak masyarakat luas untuk melawan tindakan radikalisme dan terorisme dengan memberikan wawasan edukasi literasi yang benar," kata Simon.
"Kalau ada sementara orang yang berpendapat itu playing victim, itu sama sekali tidak benar," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Emrus mengaku sudah melihat langsung gambar dan video yang tersebar di berbagai media sosial maupun layar televisi. Namun, tidak ditemukan adanya unsur playing victim.
Artinya, kata dia, tidak benar jika mantan Panglima TNI tersebut seolah-olah dibuat sebagai korban untuk mencari simpatik, sehingga masyarakat diminta untuk lebih cerdas dan dewasa dalam memahami masalah.
"Jadi jika ada anggapan seperti itu, sama sekali tidak benar dan tidak berdasar," ujar dia.
Ia mengatakan, dilihat dari sudut lambang verbal maupun nonverbal sama sekali tidak mengarah adanya unsur playing victim atau seolah-olah sebagai korban.
Pandangan tersebut ia sampaikan karena mengkhawatirkan akan ada pro dan kontra di tengah masyarakat atas insiden yang menimpa Menko Polhukam tersebut.
"Karena ini bisa saja dilakukan kelompok tertentu, ya biasa lah membentuk opini publik yang tidak produktif menurut saya," ujarnya.
Oleh karena itu, ia mendorong aparat kepolisian mengusut tuntas terkait motif pelaku yang dengan terang-terangan menyerang Wiranto menggunakan benda tajam.
Adanya sejumlah kalangan yang mencurigai kasus penusukan Menko Polhukam Wiranto sebagai kejadian rekayasa, menurut pengamat intelijen Ngasiman Djoyonegoro menunjukkan bahwa masyarakat belum benar-benar menyadari keberadaan kelompok radikal teroris di negara ini.
Oleh karena itu, lanjut Simon, sapaan akrabnya, perlu terus dilakukan literasi yang benar terkait bahaya terorisme dan juga keberadaan serta aktivitas kelompok radikal teroris itu kepada masyarakat.
"Kita semua punya kewajiban mengajak masyarakat luas untuk melawan tindakan radikalisme dan terorisme dengan memberikan wawasan edukasi literasi yang benar," kata Simon.
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor : Suriani Mappong
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kepala BMKG : Nihil korban jadi tolok ukur keberhasilan sistem peringatan dini
08 April 2022 5:36 WIB, 2022
Peneliti ICJR dorong kejelasan skema restitusi untuk korban kekerasan seksual
16 February 2022 10:40 WIB, 2022
Navy Deploys Personnel, Ships, Aircraft to Help Find Shipwreck Victim
12 January 2009 13:08 WIB, 2009
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Warga binaan di Sulawesi Selatan hasilkan 2,6 ton bahan pangan saat panen raya
16 January 2026 19:32 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Mantan PM Malaysia Najib Razak dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas 25 dakwaan
27 December 2025 6:20 WIB
PM Malaysia Anwar Ibrahim sebut kabinetnya perlu libatkan banyak tokoh muda
18 December 2025 6:58 WIB
Bentrok bersenjata perbatasan Kamboja-Thailand paksa lebih banyak sekolah ditutup
16 December 2025 10:46 WIB