Meulaboh (ANTARA) - Aktivitas masyarakat di Pulau Simeulue, Provinsi Aceh hingga Selasa (7/1) petang berangsur normal pascagempa bumi dengan magnitudo 6,4  melanda daerah kepulauan terluar Aceh, Selasa siang sekira pukul 13.05 WIB.

“Saat ini aktivitas masyarakat di Kota Sinabang, Ibu Kota Kabupaten Simeulue berangsur normal. Masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa,” kata Kepala Bagian Humas Setdakab Simeulue, Dodi Juliardi Bas yang dihubungi Selasa malam dari Meulaboh, Aceh Barat.

Menurutnya, kepanikan masyarakat terjadi saat ayunan gempa bumi melanda daerah ini dan warga berhamburan ke luar dari rumah, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Saat gempa terjadi, masyarakat juga sedang melaksanakan rutinitas seperti biasa dan sempat terhenti selama beberapa menit.

Hingga Selasa sore, seluruh aktivitas masyarakat di daerah tersebut tetap berjalan normal dan berlangsung seperti biasanya, kata Dodi.

Sementara itu, Kepala BPBD Simeulue, Aceh, Ali Hasmi yang ditanyai terpisah mengatakan sebagian besar masyarakat di daerah tersebut kini sudah berada di rumah masing-masing.

“Tidak ada warga yang naik ke gunung pascagempa bumi,” katanya.

Ia membenarkan, apabila terjadi gempa bumi dengan kekuatan besar biasanya masyarakat memang berlarian ke gunung, karena khawatir akan terjadi gelombang tsunami atau dikenal dengan istilah “Smong”.

Ali Hasmi juga mengatakan daerah ini merupakan salah satu daerah di Indonesia yang sering dilanda gempa bumi, sehingga masyarakat di daerah tersebut selalu siaga dengan bencana.

Sementara itu, gempa dengan magnitudo 6,4 yang terjadi pada Selasa siang berlokasi di kedalaman 13 kilometer di 2.29 Lintang Utara, 96.24 Bujur Timur atau berada di 24 kilometer Barat Daya Sinabang, Pulau Simeulue, Aceh, juga terasa di sejumlah daerah lainnya di Aceh dan Sumatera Utara.

Ada pun daerah di Aceh yang ikut merasakan ayunan gempa tersebut meliputi Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Barat hingga ke Aceh Jaya.

Sedangkan gempa juga ikut dirasakan oleh masyarakat di sebagian wilayah di Sumatera Utara.
 

Pewarta : Teuku Dedi Iskandar
Editor : Suriani Mappong
Copyright © ANTARA 2024