IDI: Lakukan penyaringan di semua terminal kedatangan internasional
Jumat, 24 Januari 2020 23:49 WIB
Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban usai memberikan paparan terkait virus corona di Jakarta, Jumat (24/1/2020). ANTARA/Muhammad Zulfikar
Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan perlu dilakukan "screening" atau penyaringan terhadap setiap pesawat dan penumpang di terminal kedatangan Internasional Tanah Air sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap sebaran virus corona.
"Kita perlu contoh sebagaimana yang diterapkan di Amerika sebab virus corona pada kenyataannya sudah masuk ke sejumlah negara lainnya," kata Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban di Jakarta, Jumat.
Screening secara umum bertujuan sebagai deteksi dini dari suatu penyakit atau usaha untuk mengidentifikasi penyakit tertentu. Hal ini dilakukan dengan pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat.
Ia menjelaskan Indonesia perlu berhati-hati atas penyebaran virus corona sebab saat ini sudah masuk di sejumlah negara di antaranya Singapura, Taiwan dan Korea Selatan.
Apalagi dengan semakin banyaknya penerbangan internasional dengan harga terjangkau baik itu dari maupun menuju Indonesia.
"Termasuk pula penerbangan dari China ke Indonesia yang relatif murah. Bahkan jauh lebih murah dari penerbangan Papua-Jakarta, sehingga kita harus hati-hati," ujarnya.
Senada dengan itu, ahli Penyakit Tropik dan Infeksi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Erni Juwita Nelwan menambahkan screening menggunakan body thermal scanner dibutuhkan mengingat semakin banyak penerbangan internasional yang langsung menuju Indonesia.
Khususnya, ujar dia, penerbangan langsung dari China ke Indonesia tanpa transit sudah cukup banyak jam terbangnya.
"Hal ini tentu mengkhawatirkan sebab jika memang ada virus corona, maka virus itu tidak sempat terscreening di tempat lain dulu, melainkan langsung masuk ke Indonesia," katanya.
Selain itu, yang paling penting di Indonesia saat ini ialah adanya kemampuan diagnostik yang tepat dan akurat. Hal ini dibutuhkan untuk memastikan virus corona atau bukan dengan cepat.
"Jadi kita harus pastikan bahwa kita kompeten menyeleksi kasus ini sebagai ya atau tidak," ujar dia.
"Kita perlu contoh sebagaimana yang diterapkan di Amerika sebab virus corona pada kenyataannya sudah masuk ke sejumlah negara lainnya," kata Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban di Jakarta, Jumat.
Screening secara umum bertujuan sebagai deteksi dini dari suatu penyakit atau usaha untuk mengidentifikasi penyakit tertentu. Hal ini dilakukan dengan pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat.
Ia menjelaskan Indonesia perlu berhati-hati atas penyebaran virus corona sebab saat ini sudah masuk di sejumlah negara di antaranya Singapura, Taiwan dan Korea Selatan.
Apalagi dengan semakin banyaknya penerbangan internasional dengan harga terjangkau baik itu dari maupun menuju Indonesia.
"Termasuk pula penerbangan dari China ke Indonesia yang relatif murah. Bahkan jauh lebih murah dari penerbangan Papua-Jakarta, sehingga kita harus hati-hati," ujarnya.
Senada dengan itu, ahli Penyakit Tropik dan Infeksi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Erni Juwita Nelwan menambahkan screening menggunakan body thermal scanner dibutuhkan mengingat semakin banyak penerbangan internasional yang langsung menuju Indonesia.
Khususnya, ujar dia, penerbangan langsung dari China ke Indonesia tanpa transit sudah cukup banyak jam terbangnya.
"Hal ini tentu mengkhawatirkan sebab jika memang ada virus corona, maka virus itu tidak sempat terscreening di tempat lain dulu, melainkan langsung masuk ke Indonesia," katanya.
Selain itu, yang paling penting di Indonesia saat ini ialah adanya kemampuan diagnostik yang tepat dan akurat. Hal ini dibutuhkan untuk memastikan virus corona atau bukan dengan cepat.
"Jadi kita harus pastikan bahwa kita kompeten menyeleksi kasus ini sebagai ya atau tidak," ujar dia.
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor : Suriani Mappong
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinkes Sulsel minta warga tetap vaksin booster meski PPKM telah dicabut
11 January 2023 19:34 WIB, 2023
Vaksin COVID-19 booster sudah mencakup 68,01 juta penduduk Indonesia
20 December 2022 21:09 WIB, 2022
Penduduk Indonesia penerima dosis ketiga vaksin COVID-19 capai 67,06 juta
04 December 2022 21:36 WIB, 2022
BPOM setujui perluas EUA Vaksin COVID-19 Covovax untuk booster usia 18 tahun ke atas
13 September 2022 9:15 WIB, 2022
SE terbaru wajibkan WNA minimal 18 tahun masuk Indonesia divaksin lengkap
26 August 2022 13:25 WIB, 2022
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Peneliti Unhas kenalkan lalat buah sebagai model riset strategis berbagai bidang
11 February 2026 4:35 WIB
PM Anwar tolak desakan oposisi soal isu penyerahan lahan di perbatasan Sabah-Kalimantan ke Indonesia
31 January 2026 6:15 WIB
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Warga binaan di Sulawesi Selatan hasilkan 2,6 ton bahan pangan saat panen raya
16 January 2026 19:32 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Mantan PM Malaysia Najib Razak dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas 25 dakwaan
27 December 2025 6:20 WIB