Kelimutu, Flores (ANTARA Sulsel) - Fasilitas air bersih di Taman Nasional Kelimutu (TNK) Ende di Pulau Flores, NTT, menjadi keluhan para wisatawan yang berkunjung ke objek wisata danau tiga warna di puncak gunung Kelimutu itu.
"Ini masalah utama yang selalu dikeluhkan oleh wisatawan yang menginap di Moni, pintu masuk utama menuju Kelimutu. Air yang didistribusikan oleh PDAM Ende selalu bercampur lumpur dan pasir," kata Kepala TN Kelimutu, Gatot Soebiantoro, di Moni, sekitar 60 km selatan Ende, ibu kota Kabupaten Ende, Jumat.
Hal itu dialami juga oleh ANTARA ketika mengikuti rombongan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, menginap di sebuah "home stay" yang ada Moni, sebelum mengunjungi masyarakat Desa Lise Lowobora di Kecamatan Wolowaru, sekitar 15 km dari TN Kelimutu, Jumat.
Menurut Gatot, persoalan air bersih tersebut menjadi keluhan utama para wisatawan yang menginap di Moni, sebelum menikmati keindahan alam dari atas puncak gunung Kelimutu.
Ia mengatakan, persoalan air bersih ini sudah disampaikan kepada PDAM Ende untuk segera memperbaikinya, agar tidak lagi menimbulkan kecemasan bagi para wisatawan yang berkunjung ke TN Kelimutu.
Danau Tiga Warna Kelimutu merupakan salah satu objek wisata langka dunia, selain Taman Nasional Komodo di ujung barat Pulau Flores, yang saat ini sedang diupayakan untuk masuk dalam tujuh keajaiban dunia.
Menurut Gatot, kunjungan wisatawan asing dan lokal ke TN Kelimutu meningkat pada musim libur anak sekolah, antara Juni dan Juli, yang rata-rata sehari mencapai 1.000 orang wisatawan.
Dalam tempo setahun, devisa yang dihasilkan dari kunjungan wisatawan ke TN Kelimutu mencapai sekitar Rp250 juta. Devisa tersebut disetor semuanya ke Departemen Kehutanan sebagai pihak yang mengelola konservasi alam di TN Kelimutu.
Ia menjelaskan, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TN Kelimutu untuk melihat dari dekat danau tiga warna tersebut, dikenakan tiket seharga Rp20.000/orang sekali kunjungan, sedang wisatawan nusantara dikenakan Rp2.000/orang.
"Memang ada perbedaan yang mencolok antara wisatawan mancanegara dan nusantara terkait dengan pemberlakuan tiket masuk ke TN Kelimutu, karena aturan sudah menggariskan demikian," katanya.
Menurut Gatot, wisatawan mancanegara yang lebih banyak berkunjung ke TN Kelimutu berasal dari negara-negara di kawasan Eropa, menyusul Amerika Latin dan Australia.
Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TN Kelimutu, umumnya datang dari Bali setelah menghabiskan waktunya untuk menikmati keindahan alam dan budaya di Pulau Dewata itu.
Setelah sekitar dua atau tiga hari di Kelimutu, para wisatawan mancanegara kemudian melanjutkan perjalanan ke Flores Barat untuk melihat dari dekat biawak raksasa atau komodo (varanus comodoensis), di TN Komodo yang ada di wilayah Kabupaten Manggarai Barat.
(T.L003/H009)
"Ini masalah utama yang selalu dikeluhkan oleh wisatawan yang menginap di Moni, pintu masuk utama menuju Kelimutu. Air yang didistribusikan oleh PDAM Ende selalu bercampur lumpur dan pasir," kata Kepala TN Kelimutu, Gatot Soebiantoro, di Moni, sekitar 60 km selatan Ende, ibu kota Kabupaten Ende, Jumat.
Hal itu dialami juga oleh ANTARA ketika mengikuti rombongan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, menginap di sebuah "home stay" yang ada Moni, sebelum mengunjungi masyarakat Desa Lise Lowobora di Kecamatan Wolowaru, sekitar 15 km dari TN Kelimutu, Jumat.
Menurut Gatot, persoalan air bersih tersebut menjadi keluhan utama para wisatawan yang menginap di Moni, sebelum menikmati keindahan alam dari atas puncak gunung Kelimutu.
Ia mengatakan, persoalan air bersih ini sudah disampaikan kepada PDAM Ende untuk segera memperbaikinya, agar tidak lagi menimbulkan kecemasan bagi para wisatawan yang berkunjung ke TN Kelimutu.
Danau Tiga Warna Kelimutu merupakan salah satu objek wisata langka dunia, selain Taman Nasional Komodo di ujung barat Pulau Flores, yang saat ini sedang diupayakan untuk masuk dalam tujuh keajaiban dunia.
Menurut Gatot, kunjungan wisatawan asing dan lokal ke TN Kelimutu meningkat pada musim libur anak sekolah, antara Juni dan Juli, yang rata-rata sehari mencapai 1.000 orang wisatawan.
Dalam tempo setahun, devisa yang dihasilkan dari kunjungan wisatawan ke TN Kelimutu mencapai sekitar Rp250 juta. Devisa tersebut disetor semuanya ke Departemen Kehutanan sebagai pihak yang mengelola konservasi alam di TN Kelimutu.
Ia menjelaskan, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TN Kelimutu untuk melihat dari dekat danau tiga warna tersebut, dikenakan tiket seharga Rp20.000/orang sekali kunjungan, sedang wisatawan nusantara dikenakan Rp2.000/orang.
"Memang ada perbedaan yang mencolok antara wisatawan mancanegara dan nusantara terkait dengan pemberlakuan tiket masuk ke TN Kelimutu, karena aturan sudah menggariskan demikian," katanya.
Menurut Gatot, wisatawan mancanegara yang lebih banyak berkunjung ke TN Kelimutu berasal dari negara-negara di kawasan Eropa, menyusul Amerika Latin dan Australia.
Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TN Kelimutu, umumnya datang dari Bali setelah menghabiskan waktunya untuk menikmati keindahan alam dan budaya di Pulau Dewata itu.
Setelah sekitar dua atau tiga hari di Kelimutu, para wisatawan mancanegara kemudian melanjutkan perjalanan ke Flores Barat untuk melihat dari dekat biawak raksasa atau komodo (varanus comodoensis), di TN Komodo yang ada di wilayah Kabupaten Manggarai Barat.
(T.L003/H009)