Makassar (ANTARA Sulsel) - Koloborasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni se Makassar, menyajikan pentas seni tentang perpaduan budaya, Melayu, Dayak, Bugis, Makassar dan Toraja, dalam Pentas Karya Mahasiswa Makassar (PKMM) di Auditorium Aljibra Unismuh Makassar, Minggu.
Acara penutupan pentas bersama penggiat ini menyajikan, delapan pertunjukan teatrikal, musik dan tari.
Menurut Ketua panitia, Roy Sudirman, pementasan ini sudah berlangsung seminggu diikuti oleh 29 lembaga Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) Seni, semua perguruan tinggi negeri maupun swasta di Makassar.
Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa dibuka dengan pementasan, teatrekalisasi puisi dari UKM Sanggar Seni Kisah, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin.
Dilanjutkan dengan koloborasi UKM Seni, yang menceritakan tentang "Nyun" yaitu anak suku Melayu dan Dayak dari Kalimantan menuntut ilmu ke Makassar dan berbaur dengan suku Bugis, Makassar dan Toraja.
"Ternyata setelah berbaur disadari bahwa suku-suku ini memiliki kesamaan budaya. Kita memiliki banyak kesamaan, termasuk huruf lontara," kata peserta pentas yang berasal dari Kalimantan, Nyunyun (Sulhaini).
Dia menambahkan, selain kesamaan dalam huruf, juga hampir mirip antara Tarian Melayu Tari Pakkarena dari Makassar, serta tari Tariping dari Daya hampir serupa dengan tari dari Toraja.
Ada juga persembahan dari UKM Sanggar Seni Ipas Unismuh, yang menyajikan kisah pilu, anak keluarga miskin pembuat gula merah yang jatuh cinta pada gadis cantik yang menggembala Kambing.
Hanya saja sang gadis menolak cinta dari anak muda tadi, karena ia mendambakan seorang to Manurung atau orang yang turun dari langit.
Juga menyajikan persembahan seni musik dari UKM Seni UPKSBS Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan membawakan dua lagu karya sendiri yang bertemakan alam.
Ditutup dengan penampilan UKM Sanggar Seni Serambi Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI) Makassar, dengan mengangkat tema "balle-balle jadi capres" (dalam bahasa Makassar, pura-pura jadi capres).
(T.PSO-099/F003)
Acara penutupan pentas bersama penggiat ini menyajikan, delapan pertunjukan teatrikal, musik dan tari.
Menurut Ketua panitia, Roy Sudirman, pementasan ini sudah berlangsung seminggu diikuti oleh 29 lembaga Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) Seni, semua perguruan tinggi negeri maupun swasta di Makassar.
Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa dibuka dengan pementasan, teatrekalisasi puisi dari UKM Sanggar Seni Kisah, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin.
Dilanjutkan dengan koloborasi UKM Seni, yang menceritakan tentang "Nyun" yaitu anak suku Melayu dan Dayak dari Kalimantan menuntut ilmu ke Makassar dan berbaur dengan suku Bugis, Makassar dan Toraja.
"Ternyata setelah berbaur disadari bahwa suku-suku ini memiliki kesamaan budaya. Kita memiliki banyak kesamaan, termasuk huruf lontara," kata peserta pentas yang berasal dari Kalimantan, Nyunyun (Sulhaini).
Dia menambahkan, selain kesamaan dalam huruf, juga hampir mirip antara Tarian Melayu Tari Pakkarena dari Makassar, serta tari Tariping dari Daya hampir serupa dengan tari dari Toraja.
Ada juga persembahan dari UKM Sanggar Seni Ipas Unismuh, yang menyajikan kisah pilu, anak keluarga miskin pembuat gula merah yang jatuh cinta pada gadis cantik yang menggembala Kambing.
Hanya saja sang gadis menolak cinta dari anak muda tadi, karena ia mendambakan seorang to Manurung atau orang yang turun dari langit.
Juga menyajikan persembahan seni musik dari UKM Seni UPKSBS Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan membawakan dua lagu karya sendiri yang bertemakan alam.
Ditutup dengan penampilan UKM Sanggar Seni Serambi Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI) Makassar, dengan mengangkat tema "balle-balle jadi capres" (dalam bahasa Makassar, pura-pura jadi capres).
(T.PSO-099/F003)